29.4 C
Jakarta

Al-Washliyah Siap Jadi Benteng dari Paham Radikalisme

Artikel Trending

AkhbarDaerahAl-Washliyah Siap Jadi Benteng dari Paham Radikalisme
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Bogor-Pada awalnya radikalisme muncul dari kebencian dan kekerasan. Bahkan kelompok radikal ini bersifat  intoleran. Untuk itu diperlukan kelompok moderat, baik para pensiunan ASN, maupun TNI/POLRI, untuk menjaga masjid agar tidak ‘diselundupan’ ideologi-ideologi yang merusak agama.

Hal tersebut dikatakan Ketua bidang Kerukunan Antar-Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Yusnar Yusuf Rangkuti, M.Sc, Ph.D saat menjadi narasumber lokakarya yang digelar oleh Pengurus Wilayah Al Jam’iyatul Washliyah Provinsi Jawa Barat bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Dengan materi bertema “Moderasi Beragama Dalam Menjaga Keutuhan NKRI”, KH Yusnar Yusuf Rangkuti mengatakan bahwa Islam masuk di Indonesia sudah termasuk salah satu dari moderasi. Namun harus dipahami bahwa semua agama adalah moderasi, dimana konsep awal yang mendasari bahwa mencari moderasi pasti ada dalam semua agama. Di dalam Islam berdakwah itu diharuskan, tetapi saat sekarang ini banyak sekali tantangan dalam berdakwa.

Acara yang mengambil tema “Komunikasi Informasi Edukasi Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan Yang Mengarah pada Terorisme” ini digelar di New Panjang Jiwo Syariah Resort, Kabupaten Bogor, Rabu (13/10/2021).

“Padahal dengan dakwah kita sekarang tentunya akan berdampak kepada generasi berikutnya. Agama juga masuk ke Indonesia dengan damai dengan harapan Al Washliyah di Jawa Barat ini bisa melakukan pendakwahnya untuk masyarakat. Dan itu harus dilakukan sampai akhir hayat agar bisa menjadi benteng untuk umat dari paham radikal terorisme,” ujar KH Yusnar Yusuf Rangkuti.

BACA JUGA  Guru MI di Pacitan Tangkal Radikalisme di Kalangan Milenial

Dalam kesempatan tersebut Kasubdit Bina Masyarakat BNPT, Kolonel Sus. Drs. Solihuddin Nasution yang juga hadir sebagai narasumber dengan tema “Wawasan Kebangsaan dan Nasionalisme” mengatakan bahwa penyebaran atau penyusupan paham radikalisme dan terorisme ini dilakukan melalui media masa meliputi internet, buku, majalah.

Selain itu kelompok radikal terorisme ini juga biasa melakukan komunikasi langsung dalam bentuk dakwah, diskusi atau bedah buku dan melalui pertemanan. Selain itu kelompok tersebut juga biasa melakukan pendekatan dan menjalin hubungan kekeluargaan dengan bentuk pernikahan, kekerabatan dan juga pendidikan baik itu di sekolah, pesantren dan perguruan tinggi.

“Dulu kelompok radikal tersebut menyebarkan pahamnya menyasar pada keluarga, pertemanan, pertokohan, lembaga keagamaan dan pastinya melakukan rekrutmen bersifat tertutup yang berujung pada pembantaian. Jika dibandingkan dengan sekarang kelompok radikal saat ini merambah pada website, media sosial. Mereka melakukan rekrutmen secara terbuka dan pembantaian bukan berupa nyawa saja tetapi mempengaruhi psikis melalui media social,” ujar. Kolonel Sus. Solihuddin Nasution.

Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru