Al-Qur’an dan Arti Membaca di Era Digital


0
3 shares

Kitab terakhir orang Islam yang hingga kini masih langgeng dan dibaca setiap waktu adalah Al-Qur’an. Ia merupakan firman Tuhan yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai nabi penutup (khâtam al-‘anbiyâ’).

Al-Qur’an merupakan suatu nama yang terambil dari kata kerja qara’a yang pada mulanya berarti menghimpun. Apabila ada serangkaian huruf atau kata kemudian rangkaian tersebut diucapkan, maka yang demikian itu adalah menghimpunnya yakni membacanya.

Terlepas dari asal kata al-qur’ân tersebut penting Anda menggarisbawahi bahwa membaca adalah suatu aktivitas yang dibutuhkan guna membentengi diri dari jerat kebodohan. Membaca dapat mengantarkan Anda tidak mudah menelan informasi, apalagi di era sekarang yang serba digital. Segala bentuk informasi dengan mudah dikonsumsi.

Al-Qur’an dengan makna membaca telah terpatri dalam surah al-Alaq ayat pertama, yang berbunyi: Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. 

Bunyi ayat ini termasuk bagian ayat yang diterima pertama kali oleh Nabi Muhammad saw. di gua Hira. M. Quraish Shihab menulis dalam Tafsir Al-Mishbah, bahwa ayat tersebut tidak menyebut objek bacaan, sementara Jibril as. tidak membacakan satu teks tertulis, sehingga beliau tidak bisa menjawab pertanyaan dengan dalih: Ma aqra’/Apakah yang saya harus baca?

Peristiwa turunnya ayat ini mengajarkan Anda beberapa hal. Di antaranya, pendidikan dan pembelajaran membaca guna membedakan informasi yang benar dan yang salah. Sebagai netizen Anda dituntut membaca dan menyaring beragam informasi yang masuk. Telanlah informasi positif dan hindari infomasi negatif alias hoax. 

Di samping itu, membaca mengantarkan Anda menjadi pribadi yang gemar berkarya daripada gemar berkata nyinyir alias hate-speech di media sosialAnda bisa lihat sekian cendekia yang produktif berkarya. Semisal, Al-Ghazali yang menyelam aneka ilmu: teologi, filsafat, hingga tasawuf. Demikian, Imam Syafi’ie yang dikenal alim dan pakar pelbagai bidang pengetahuan, yaitu fikih, usul fikih, tafsir, dan lain-lain.

Baca Juga:  Ayat-Ayat Puasa Dalam Al-Quran (7)

Segelintir pakar tersebut hanya sebatas contoh yang dapat saya ungkap. Sejatinya, masih banyak pakar yang selevel dengan beliau.

Mereka ada pada puncak keberhasilan bukan sebuah kebetulan, melainkan proses membaca yang dilalui setekun mungkin. Sehingga, setelah berpayah-payah, mereka mencicipi buahnya. Anda bisa membedakan saat bersua di dunia maya mana netizen yang cerdas dan mana netizen yang “dungu”—meminjam istilah Rocky Gerung.

Al-Qur’an pun demikian. Kalamullah ini bukan hanya sebatas pajangan/hiasan, tetapi juga dibaca ayat demi ayat, baik setiap waktu, setiap hari, ataupun di kala sempat.

Lebih dari itu, Al-Qur’an ditelaah pesan-pesan yang tersirat. Hal ini tidak mudah. Hanya orang yang berbekal pengetahuan mumpuni yang dapat menyelam pesan-pesan ini. Mereka adalah mufasir (reader). Sebut saja, ath-Thabari melalui Jâmi’ al-Bayân, Fahruddin ar-Razi dalam Mafâtîh al-Ghaib, Wahbah az-Zuhayli dengan At-Tafsîr al-Munîr, Hamka atas Tafsir al-Azhar, dan beberapa mufasir yang lain.

Yang awam dan belum mampu menjadi mufasir cukup membaca tafsir-tafsir karya mereka. Sebab, sekian tafsir ini dapat membantu mereka yang belum mampu memahami pesan Allah swt. tanpa ijtihad.

Nah, bila Al-Qur’an hadir kemudian disambut dengan semangat membaca dan menelaahnya, maka tersampaikanlah pesan-pesan Tuhan, baik yang tersurat maupun yang tersirat. Merekalah orang-orang beruntung (al-muflikhûn).[]


Like it? Share with your friends!

0
3 shares

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Khalilullah

Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Peneliti Pendidikan Kader Mufasir (PKM) Pusat Studi Al-Qur'an (PSQ) Jakarta