24.5 C
Jakarta

Aktualisasi Gotong Royong Kebangsaan di Tengah “New Normal”

Artikel Trending

Sudah tiga bulan berlalu, masyarakat melakukan jaga jarak dengan beraktivitas di rumah. Beragam krisis sosial-ekonomi muncul beriringan dengan pandemi, misal banyaknya masyarakat yang di-PHK, hilangnya peluang kerja sampai krisis pangan. Kini pemerintah mewacanakan kebijakan “new normal” rangka menjaga stabilitas perekonomian. Akan tetapi, sebelum transisi dari kenormalan lama, masyarakat harus disiapkan terkait kedisiplinan dan kepatuhan pada protokol medis.

Dalam KBBI, istilah “normal” identik dengan keteraturan, kesesuaian atau berjalan di atas rel norma atau kaidah yang berlaku. Menyitir pernyataan Yudi Latif, seringkali keteraturan terjerembab dalam normalitas yang keliru. Masyarakat kita cendrung membenarkan yang biasa daripada membiasakan yang benar (mediaindonesia.com, 02/06/2020). Misalnya, selagi bisa mengobati, untuk apa mencegah atau selama bisa menghasilkan uang mengapa harus memberi dan berbagi. Bahkan, selama pandemi ini, tidak sedikit orang yang menumbalkan kepentingan bersama untuk kepentingan pribadi, seperti kapitalisasi barang medis, penimbunan masker dan sebagainya.

Munculnya wacana kenormalan baru ini harus dipahami sebagai upaya menemukan rutinitas yang tidak hanya baru melainkan juga benar. Pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa menjadi acuan normatif untuk menjalani kenormalan baru. Perayaan Hari Pancasila pada satu Juni lalu yang bersamaan dengan munculnya wacana “new normal” menjadi momentum untuk mengaktualisasikan gotong royong kebangsaan selama pandemi.

Gotong royong merupakan ruh Pancasila yang digali oleh Soekarno dalam karakter dan kepribadian bangsa yang majemuk ini. Oleh karenanya, Bung Karno tidak mengeklaim dirinya sebagai pencipta Pancasila melainkan penggali Pancasila. Memang, gotong royong tidak termaktub secara eksplisit dalam redaksi kelima sila Pancasila tetapi gotong royong adalah inti dari dasar negara Indonesia. Kelima nilai Pancasila harus diaktualisasikan berdasarkan etos gotong royong.

Secara paradigmatik, dasar dari semua Pancasila adalah gotong royong. Pertama, prinsip ketuhanan harus berjiwa gotong royong. Artinya, aktivitas ketuhanan kita harus mengakomodir nilai-nilai budaya lokal, bersifat lapang dan transformatif serta mampu membina toleransi antar umat beragama. Pancasila tidak menghendaki ketuhanan yang saling menyerang, mengucilkan, dan mendominasi agama-agama yang lain. Kedua, prinsip kejiwaannya harus berjiwa gotong royong yang mampu merawat entitas keberagaman dalam payung Bhinneka Tunggal Ika.

Ketiga, prinsip internasionalismenya berjiwa gotong royong, yang berarti internasionalisme berkemanusiaan dan berkeadilan, bukan internasionalisme yang menjajah dan eksploitatif. Keempat, prinsip demokrasi harus berjiwa gotong royong yakni demokrasi yang mampu membumikan prinsip musyawarah mufakat, bukan demokrasi yang dikontrol oleh suara mayoritas atau sebagian elite penguasa modal. Kemudian, prinsip kesejahteraan ala Soekarno harus berjiwa gotong royong yakni kesejahteraan ekonomi bersifat partisipatif dan emansipatif berdasarkan etos kekeluargaan, bukan kesejahteraan berjiwa individulisme-kapitalisme.

Yudi Latif dalam buku Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas (2015: 372) menegaskan pernyataan Ir. Soekarno bahwa gotong royong merupakan upaya pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantu-membantu tanpa pamrih, atas dasar cinta. Bahkan, Soekarno menegaskan etos gotong royong lebih dinamis daripada etos kekeluargaan. Dan gotong-royong tidak dibangun atas dasar ikatan primordial tertentu.

Dalam masa transisi ini, kita harus memperkuat gotong royong kebangsaan sebagai upaya pemulihan tatanan kehidupan nasional ke era normalitas yang baru. Kita sebagai umat muslim yang sudah melalui proses pendidikan selama bulan Puasa Ramadhan serta kembali fitri hendaknya mampu mentransformasikan etos gotong royong ke dalam realitas kehidupan normal yang baru.

BACA JUGA  Hubungan Islam dan Demokrasi Perspektif Bahtiar Effendy

Hakikatnya, orang yang berpuasa dan beridul fitri telah mensucikan dirinya dari sikap kikir, sombong, berprasangka buruk, dan tamak. Puasa telah mengajak kita untuk mengenal jati diri (fitrah) kita sebagai manusia. Nilai puasa dan idul fitri yang bersifat sakral-individual harus ditranformasikan ke dalam level sosial-empirik selama new normal. Impian menuju new normal harus didasari oleh spirit tolong-menolong, bahu-membahu dan perjuangan bersama rangka memerangi pandemi global.

BACA JUGA  Hubungan Islam dan Demokrasi Perspektif Bahtiar Effendy

Gotong royong itu sendiri mendapatkan landasan teologisnya dalam agama Islam. Allah swt. dalam QS. Al-Maidah: 02, memerintahkan umat muslim untuk tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakawaan. Lebih dari itu, pada dalam QS. Al-Ma’un: 2-3, Allah swt. juga menuntut umat muslim mengejawatahkan ibadah salah ke dalam dimensi sosial dengan menyantuni anak yatim serta memberi makan orang miskin.

Ayat-ayat di atas menunjukkan agama Islam menampilkan dirinya sebagai agama yang menjunjung tinggi etos gotong royong. Menurut Nurcholish Madjid dalam Islam Agama Kemanusiaan (1995: 22), agama Islam memiliki tekad yang kuat untuk menggaungkan keadilan sosial dengan membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan berdasarkan spirit persaudaraan dan tolong-menolong sebagai pondasi kehidupan sosial.

Menurut Quraish Shihab dalam Corona Ujian Tuhan: Sikap Muslim (2020: 53-54), umat muslim harus mampu menjalin solidaritas kemanusiaan sebagai satu kesatuan hidup dalam dunia yang kecil selama pandemi global. Di tengah persamaan nasib, setiap umat muslim dituntut untuk saling bergotong royong dan tolong menolong secara adil dan egaliter tanpa memandang suku, agama dan bangsa.

Sekalipun pemerintah telah menyalurkan Bantuan Lansung Tunai (BLT) sebesar 600.000 kepada masyarakat miskin, tetap saja kita perlu bergotong royong dan saling membantu kepada pihak-pihak yang membutuhkan dan menjadi korban COVID-19. Sebab kenyataannya, banyak rakyat miskin yang tidak mendapatkan bantuan tersebut lantaran tidak memenuhi kriteria dan tidak terjangkau secara wilayah. Di sisi lain, ada sejumlah oknum yang melakukan tindakan koruptif terhadap bantuan tersebut.

Melihat kenyataan di atas, pasca-puasa dan idul fitri ini, kita harus merevitalisasi etos gotong royong dengan memassifkan kembali gerakan sedekah, donasi, berinfaq, berbagi baik secara langsung ataupun virtual serta saling mengingatkan dalam kebaikan untuk tetap di siplin dan menaati protokol medis. Secara formal, kita sudah tuntas menjalankan syariat puasa Ramadhan tetapi tugas kemanusiaan kita belum selesai.

Oleh karena itu, mari kita internalisasikan kembali etos gotong royong Pancasila selama new normal ini. Dengan bergandengan tangan dan saling bekerja sama, kita optimis mampu bangkit dari keterpurukan hidup selama pandemi dan membangun kembali stabilitas nasional. Amien.

Penulis merupakan Ketua Ikatan Keluarga Besar Al-Amien Prenduan (IKBAL) Koordinator Daerah Yogyakarta Tahun 2019-2020.

Avatar
Rahmat
Ketua Ikatan Alumni Al-Amien Prenduan (IKBAL) Kordinator Daerah Yogyakarta Periode 2019-2020

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru