34 C
Jakarta

Aktivis Khilafah, Fitnah Komunis dan Hilangnya Jejak Teroris

Artikel Trending

Milenial IslamAktivis Khilafah, Fitnah Komunis dan Hilangnya Jejak Teroris
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Over fitnah pemerintah komunis kembali menyeruak ke permukaan dunia maya, lebih dari sekedar fitnah. Pemelintiran ini berpotensi menghilangnya fakta penikaman Syekh Ali Jaber  di Lampung (13/09), aktivis khilafah berikhtiar mengaburkan jejak teroris (pelaku) dari wilayah penegakan hukum. Peristiwa yang amat shahih kini butuh kepastian hukum.

Narasi yang sedang viral pelaku (jejak teroris) diisukan mengalami gangguan jiwa, di waktu yang bersamaan, aktivis khilafah di lingkaran kelompok radikal berupaya keras membelokkan fenomena terorisme ini dengan isu komunis. Oleh karena itu, korbannya adalah ulama. Hal itu memang harus diakui, teror ulama berkali-kali terjadi di masjid, hingga banyak memakan korban.

Berdasar fakta, terjadi 6 kali teror kepada ulama, di antaranya: Pertama, penyerangan di masjid Baitur Rohim Tuban (13/02/2018). Kedua, penyerangan di Ponpes Karangasem Lamongan (18/02/2018). Ketiga, penganiayaan pengurus Persis di Cigondewah Bandung (01/02/2018). Keempat, penyerangan imam masjid al-Falah Darul Muttaqin Pekanbaru (23/07/2020). Kelima, penganiayaan kiai Umar Basri pimpinan Ponpes al-Hidayah di masjid al-Hidayah Cicalengka Bandung. Keenam, penusukan Syekh Ali Jaber di masjid Falahuddin di Lampung (13/09/2020).

Rentetan teror ulama tersebut timbul prasangka buruk besar di kalangan aktivis khilafah, khususnya bagi Tengku Zulkarnain. Ia pun berkata bahwa di balik teror ini ada skenario, dan kenapa sasarannya ulama terus, dan ulama lagi. Kenapa tidak polisi saja sebagai aparatur keamanan? Mispersepsi ini ibarat pesan teror supaya jejak teroris hilang dengan begitu saja.

Dalam konteks teori gerakan sosial, Tengku Zulkarnai melalui narasi provokatif ingin mencoba meyakinkan seluruh telinga umat Islam supaya tidak lagi percaya kepada pemerintah. Dengan demikian, terciptalah situasi teror yang membuat masyarakat takut, dan resah. Sehingga timbul kesimpulan publik bahwa Indonesia adalah negara yang tidak aman.

Namun, di luar fitnah pemerintah komunis, ia ikhtiar membangun ghirah agama guna menggulingkan kekuasaan yang konstitusional. Bahkan, ceramah-ceramahnya terkesan mengingatkan di mana PKI banyak membantai ulama ketika itu. Sebuah argumen adu domba yang akan membuat Indonesia terpecah belah, dan dapat menlenyapkan jejak teroris..

Ikhtiar Membongkar Jejak Teroris

Penusukan Syekh Ali Jaber alias teror ulama terjadi di masjid, hal serupa dialami khalifah Utsman bin Affan saat terbunuh oleh tangan kelompok khawarij, kini kita kenal kelompok salafi radikal/Islam radikal. Abdullah bin Saba’ adalah pembunuhnya beragama Yahudi, kemudian hijrah, dan jatuh ke pelukan agama Islam. Justru hal itu di luar dugaan nalar, malah ia menikam dari belakang guna menghancurkan Islam dari dalam.

Nah fitnah pemerintah komunis, dan tuduhan skenario politik oleh Tengku Zulkarnain bertujuan melenyapkan kepercayaan masyarakat kepada negara. Pesannya bermotif, seakan-akan pemerintah tidak menjamin kepastian hukum di sektor keamanan. Terutama, kepada ulama. Yang belakangan ini ia membesar-besarkan bahwa ada upaya kriminalisasi ulama.

Argumen tersebut menjadi bukti terang adanya ikhtiar menghilangkan jejak teroris, padahal dalam penusukan Syekh Ali Jabir, masyarakat khususnya umat Islam perlu melihat secara murni dengan keteguhan hati yang bersih tanpa mendengar narasi-narasi provokatif walau dari ulama sekali pun. Jika ia memang ulama sungguhan harusnya mendamaikan masyarakat, agar negeri ini tidak gaduh. Seperti yang Nabi warisi.

BACA JUGA  Pasca Bjorka, Pemuda Jadi Target Teroris di Ruang Digital

Menurut kiai Said Aqil Sirajd, penusukan Syekh Ali Jaber merupakan tindakan yang biadab, tindakan yang tidak bermoral, tindakan tidak punya muru’ah, tindakan yang tidak punya rasa tanggung jawab. Bahwa, atas nama apa pun, melakukan teror itu dilarang dalam agama Islam, apalagi kepada seorang mubaligh, seorang syekh (sumber: okezone.com).

Ulama adalah pewaris Nabi “al-ulama waratsatul anbiya’”. Nabi pun selama menduduki sebagai kepala negara sekaligus hakim dan legislator tidak pernah mencaci maki pemerintahannya walau terjadi konflik. Sebaliknya, ia malah menebar nasehat-nasehat yang sopan-santun, mencerahkan, mendamaikan, dan mempersatukan, agar tidak lagi timbul permusuhan.

Dalam konteks ini, penusukan Syekh Ali Jaber dapat dikategorikan aksi terorisme, dan terorisme tidak mengharuskan bersentuhan dengan jejak teroris (kelompok) seperti ISIS, al-Qaeda, dan Jamaah Islamiyah. Dengan tidak waras sekali pun masih mampu menjadi teroris, apalagi sekedar pura-pura tidak waras alias sakit jiwa.

Usut Tuntas Terorisme

Teroris dalam berbuat kejahatan bisa melalui kekerasan fisik, pembunuhan berjenis penusukan, dan pengeboman sekali pun. Pola target yang disasar tidak hanya ulama saja, melainkan negara, hingga warga sipil. Ada juga pesan teror di media sosial atau di forum publik yang membuat negara dan masyarakat resah, misalnya, ucapan Tengku Zulkarnain yang berkata kenapa hanya ulama saja korbannya, mana dari aparatur kepolisian?

Karena itu, jejak teroris yang membuat masyarakat geram kepada pemerintah, dan aparat penegak hukum. Sentimen radikal-teroristik juga perlu diusut tuntas sampai ke akar-akarnya, setidaknya mencegah potensi terorisme susulan sebelum menghadapi agenda Pilkada 2020, apalagi di musim Pandemi Covid-19. Aparat penegak hukum harus bertindak cepat dan tegas.

Pepatah Mesir mengatakan dalam buku Faraq Fauda (Kebenarang yang Hilang: 2012), tutuplah segala celah yang memungkinkan masuknya terpaan angin, bagaimana apabila yang datang justru badai topan pengkafiran, dan telinga anda tidak henti-hentinya mendengar tuduhan yang bukan-bukan?

Artinya, tuduhan-tuduhan semacam fitnah tidak perlu disebar-luaskan dengan kebohongan-kebohongan yang fiktif, sedangkan kebenaran materiil harus dibuktikan dengan fakta dan data yang shahih, sehingga jejak teroris dapat ditemukan. Tanpa harus menghilangkan jejak teroris (pelaku penusukan) atas dalih menuduh pemerintah komunis. Jadi, seorang ulama haruslah berkata benar, benar, dan benar.

Haruskah demi kepentingan politis kebenaran itu hilang ditelan bumi? Lalu dengan mengkapitalisasi agama fitnah itu muncul dan datang sempurna. Dengan bukti pelaku penusukan Syekh Ali Jaber tidak harus Tengku Zulkarnain mengkait-kaitkan dengan dengan tuduhan komunis, dan lain sebagainya. Citra positif harus mendorong aparat penegak hukum mengusut tuntas teror ulama, tujuannya agar aksi terorisme tidak kembali terjadi, dan jejak teroris itu tidak hilang begitu saja.

Hasin Abdullah
Hasin Abdullahhttp://www.gagasahukum.hasinabdullah.com
Peneliti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru