31.4 C
Jakarta

Aktivis Khilafah dan Narasi Liberalisme; Upaya Melawan Propaganda

Artikel Trending

Milenial IslamAktivis Khilafah dan Narasi Liberalisme; Upaya Melawan Propaganda
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Pada awal-awal tahun 2000-an, pemikiran Islam di Indonesia mengalami gejolak yang cukup ekstrem, yaitu lahirnya kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL), forum terbuka untuk membahas dan menyebarluaskan keterbukaan Islam. Prinsip JIL ialah kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. Liberal diorientasikan untuk kebebasan dan pembebasan. JIL menawarkan pemikiran inklusif yang terlampau bebas, sehingga ia dianggap penyebar liberalisme.

Pada waktu yang bersamaan, HTI sedang marak-maraknya. Strukturalnya tertata rapi, mulai DPP, DPW, dan DPD. Di kalangan pelajar, mereka punya Gema Pembebasan. Kontras dengan JIL, HTI memiliki prinsip pan-islamisme, islamisme, supremasisme Muslim, khilafahisme, salafisme, jihadisme, sentimen anti-sekularisme, anti-Barat, anti-Hindu, anti-Kristen, anti-nasionalisme, anti-Zionisme, anti-demokrasi, anti-liberalisme, anti-komunisme, dan anti-kapitalisme.

Tiga sentimen; anti-liberalisme, anti-sekularisme, dan anti-kapitalisme, lagi marak-maraknya dikampanyekan hari ini. Namun, pada bagian ini, pembahasan fokus pada narasi liberalisme saja, dan dua sentimen lainnya akan diulas pada bagian selanjutnya. Faktanya, sentimen anti-liberalisme, kapitalisme, dan sekularisme sangat kompleks, namun narasi liberalisme bisa dibahas terpisah karena menyangkut cara keberagamaan—isu yang sensitif bagi masyarakat Indonesia.

Perlu ditegaskan di awal, semua aktivis khilafah, baik dari kelompok HTI, Wahabi, maupun Ihwanul Muslimin, sama-sama menentang liberalisme. Namun, dalam praktik propagandanya, HTI menjadi yang paling sering menggunakan senjata tersebut untuk melemahkan demokrasi dan ajaran Islam moderat-inklusif. HTI bahkan ada di titik paling berlawanan dengan liberalisme, sehingga setiap indoktrinasinya tampak sebagai antitesis dari liberalisme itu sendiri.

Artinya, jika liberalisme mengumandangkan ‘pembebasan’ cara keberagamaan demi menemukan keterbukaan dan kebenaran universal, HTI justru mengumandangkan ‘pembebasan’ dari segala produk Barat yang liberalisme termasuk salah satu di antaranya. Karena itu, aktivis khilafah HTI menarasikan liberalisme sebagai sesuatu yang sangat menentang Islam, sehingga harus dijauhi. Propaganda yang harus dilawan dari mereka adalah bahwa di NKRI, liberalisme bersarang. Masyarakat ditakut-takuti.

Mengapa Takut Liberal?

Liberal dan liberalisme adalah entitas yang tidak sama, sama dengan radikal dan radikalisme yang maknanya sangat jauh berbeda. Dalam diskursus filsafat, seseorang wajib berpikir radikal; mencapai akar paling dasar dari sebuah persoalan. Dalam diskursus keagamaan juga demikian, seseorang harus berpikir liberal untuk menemukan kontekstualisasi ajaran Islam. Dengan berpikir liberal, yang konotasinya positif, seseorang akan berislam dengan keimanan yang sangat kokoh.

Berpikir liberal sama maknanya dengan berpikir maju, sehingga istilah yang sering kali disepadankan adalah ‘progresif’. Setiap Muslim harus progresif agar Islam membawanya pada kemajuan, bukan mandek dalam doktrin rigid dan eksklusif. Kemajuan Islam di masa lalu, dengan tokohnya yang jenius-jenius seperti Ibnu Rusyd, Imam Ghazali, Ibnu Sina, dan ratusan cendekiawan lainnya, lahir disebabkan keberislaman yang progresif tadi sehingga sains mereka kuasai dan peradaban jadi gemilang.

Jadi, mengapa takut liberal? Hari ini, umat Islam di Indonesia, ada yang berbeda sedikit dituduh liberal. Ada kemajuan dalam konteks kerukunan antarumat langsung diaggap sebagai propaganda para Muslim liberal. Naifnya, mereka tidak tahu apa itu liberal. Yang mereka tahu adalah bahwa liberal itu kotor, najis, dan haram. Dan anehnya lagi, dengan mindset yang takut liberal tersebut, mereka menginginkan kejayaan seperti yang Islam gapai di masa lalu. Benar-benar kebodohan yang berlipat-lipat.

Ketakutan umat Islam di Indonesia dengan istilah liberal disebabkan propaganda para aktivis khilafah, salah satunya. Namun, di samping itu, itu karena akademisi seperti Adian Husaini, dosen di Universitas Ibnu Khaldun Bogor, beserta rombongannya, meskipun bukan aktivis khilafah, ikut menyuarakan antipati terhadap istilah liberal. Mereka menyamakan liberal dengan liberalisme, yang akibatnya umat tidak hanya membenci JIL, tapi fobia dengan liberal dalam seluruh kemungkinan maknanya. Ironi.

Padahal, liberalisme dan liberal itu tidak sama. Liberalisme adalah sebuah ideologi, sementara liberal adalah cara berpikir. Moderasi Islam, misalnya, sangat menentang prinsip liberalisme dan ekstremisme sebagai dua kutub keberislaman. Namun ajaran-ajaran moderat itu sendiri diperoleh dengan mengedepankan progresivitas, berpikir maju, dan berpikir bebas dari jeratan ortodoksi. Maka, umat Islam di Indonesia harus sadar untuk tidak takut liberal, karena itu dicipta sebagai propaganda.

Propaganda Keberagamaan

Propaganda di sini baru pelaku utamanya adalah aktivis khilafah. Tujuan mereka dalam menarasikan bahaya liberalisme bukan untuk menawarkan epistemologi keberislaman tertentu, melainkan memengaruhi umat agar yakin bahwa Islam yang berlaku hari ini sama sekali keliru. Propaganda tersebut punya tujuan yang jelas, yaitu membuat umat merasa bahwa iklim keberagamaan hari ini menyalahi Islam, dan satu-satunya solusi atas masalah tersebut adalah tegaknya khilafah.

Jadi, hanya dengan mendirikan khilafah, menurut propaganda tersebut, Islam kaffah baru bisa eksis. Islam saat ini, bagi aktivis khilafah masih belum kaffa karena belum menegakkan sistem khilafah. Propaganda seperti ini diulang-ulang, disebarkan terus menerus, dicekokkan tanpa henti kepada umat Islam. Aktivis khilafah melakukannya dengan sangat masif dan dampaknya sama persis dengan narasi anti-Syiah. Anti-liberalisme dipropagandakan oleh HTI, anti-Syiah dipropagandakan oleh Wahabi.

Lalu mengapa narasi liberalisme dianggap sebagai propaganda keberagamaan? Karena dalam propaganda ekonomi dan politik, mereka memiliki narasi lainnya, yaitu kapitalisme dan sekularisme. Jadi dalam prinsip anti-kapitalisme aktivis khilafah, terutama HTI dalam hal ini, liberalisme adalah problem paling primordial dalam cara keberislaman di Indonesia. Namun, bukan untuk memperkaya epistemologi Islam mereka berjuang, melainkan untuk memuluskan agenda tegaknya khilafah. Itulah propagandanya.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Ahmad Khoiri
Ahmad Khoiri
Mahasiswa SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru