31.5 C
Jakarta
Array

Aktivis Gema Pembebasan Tantang Makmun Debat Terbuka

Artikel Trending

Aktivis Gema Pembebasan Tantang Makmun Debat Terbuka
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Aktivis Gema Pembebasan Tantang Makmun Debat Terbuka

Harakatuna.com. Semarang. Pagi ini, Sabtu (04/03/2017), sekitar pukul 09.00 wib, bertempat di Gedung Dakwah Habibah, Jl Kintelan Baru, Semarang, dua penulis buku tentang Khilafah bakal bertemu dalam acara debat terbuka, keduanya akan adu argumentasi ilmiah dengan semangat saling mematahkan. Seru! Karena dua buku itu, isinya, bertentangan.

Di sini pula akan terkupas manakah dari kedua penulis ini yang lebih rasional-konseptual? Apakah saudara Aab, ataukah saudara Makmun? Ataukah keduanya salah memahami khilafah.

“Ini menarik. Anak-anak muda NU perlu datang menyimak debat terbuka tentang khilafah yang menghadirkan dua penulis berlawanan. Apalagi dalam konteks ini yang akan mengkritisi tentang khilafah adalah kaum muda,” demikian disampaikan Erwin Mohammad, kader muda NU Surabaya, Sabtu (04/03/2017).

Awalnya, Aab Elkarimi, penulis buku “Saatnya Mahasiswa Berkhilafah” yang sibuk memasarkan sistem khilafah di kalangan anak muda ini, terlihat geram menyaksikan buku Makmun Rasyid tentang ‘Hizbut Tahrir Indonesia, Gagal Paham Khilafah’. Kalau selama ini kelompok pro khilafah menyerang bahwa Demokrasi Pancasila tidak ada dalam Alquran, maka, kelompok kontra khilafah pun bisa mengatakan, bahwa sistem khilafah juga tidak ditemukan satu pun dalilnya dalam Alquran.

Buku yang ditulis Makmun ini, semakin laris manis, menjadi rujukan anak-anak muda NU. Bahkan tak sedikit kampus umum yang ingin membedah buku tersebut. Inilah yang membuat telinga Aab Elkarimi ‘merah’. Ia kemudian menulis surat terbuka ditujukan kepada penulis buku ‘HTI, Gagal Faham Khilafah’ saudara Muhammad Makmun Rasyid.

“Saya selaku penulis buku “Saatnya Mahasiswa Berkhilafah” membuat undangan terbuka untuk diskusi dan ngopi. Boleh konsep terbuka, boleh juga malu-malu saling sapa. Tapi yang pasti pengen ketemu aja,” kata Aab mengawali tantangannya.

“Pasalnya dilihat dari usia, kita sama, cuma yang beda mungkin ente Jomblo, saya udah punya anak satu, cantik pula. Hehe,” begitu ia sedikit meledek.

“Sepertinya akan menarik. Dua buku yang sama-sama bicara Khilafah, lahir dari rahim penulis yang sama-sama masih muda, namun dengan gaya penulisan yang berbeda antara produk skripsi dan popular,” jelasnya sambil menekankan, bahwa, biasanya kalau sama teman sebaya mungkin lebih cair dan bergairah.

Bagi Makmun Rasyid, diskusi itu sudah makanan setiap hari, mau terbuka atau tertutup tidak masalah. Makmun yang juga dikenal sebagai penulis buku ‘Politisasi Agama’, ‘Kemukjizatan Menghafal Al-Qur’an’ ini, menyatakan setuju, bersedia hadir dalam debat terbuka.

Lekaki yang sudah menghafal 30 juz Alquran dalam usia sangat muda ini, berharap dengan debat terbuka, publik — khususnya anak-anak muda — paham betul apa itu khilafah. Jangan sampai menjadi anak muda yang gagal memahami khilafah dan ujungnya mengancam Demokrasi Pancasila dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (sov)

DUTA

 

Harakatuna
Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru