25.7 C
Jakarta

Aksi Reuni 212 Sinyal Buruk Bagi Indonesia

Artikel Trending

EditorialAksi Reuni 212 Sinyal Buruk Bagi Indonesia
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Mantan petinggi Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS) menyerukan ajakan untuk menghadiri dan memenuhi acara reuni 212 yang akan digelar dalam waktu dekat. Habib Rizieq meminta seluruh umat Islam di Indonesia membanjiri Jakarta saat Reuni 212 berlangsung. Bahkan HRS menyerukan agar umat Islam membuat baliho, spanduk hingga meme terkait undangan Reuni Alumni 212 untuk disebarluaskan.

Berdasarkan Maklumat Panitia Reuni Alumni 212, Juru Bicara PA 212, Novel Bamukmin kegiatan massa berlangsung di dua lokasi. Pertama, aksi bertema ‘Bela Ulama, Bela MUI, dan Ganyang Koruptor’ yang berlokasi di Patung Kuda, pukul 8-11 WIB. “Surat pemberitahuan ke Polda Metro Jaya telah diberikan pada Senin, 29 November 2021, pukul 14-14.50,” kata Novel. Acara kedua bertempat di aula Masjid Az-Zikra Bogor, pukul 12.30-15.30, kegiatan itu berupa silaturahmi dan dialog 100 tokoh dengan tema ‘Bersama Mencari Solusi untuk Keselamatan NKRI’ (Tirto, 1/12/2021).

Melihat fakta-fakta itu HRS dan Novel Bamukmin rasanya tidak punya hati melihat realitas pandemi baru yang terjadi. Bukan tidak boleh seseorang dan kelompok membuat acara. Tetapi dengan pandemi yang melonjak ini, di beberapa negara sudah ditemukan gejala terbaru. Rasanya sudah pas bahwa HRS dan Novel kurang punya hati karena tidak eman kepada kesehatan umatnya.

Bagaimana dampak yang terjadi seandainya orang-orang beneran hadir dan berkumpul di monas seperti tahun-tahun sebelumnya. HRS dan Novel enak hanya menyerukan. Tetapi masyarakat dan umat Islam jelas menjadi korbannya. Mengikuti suruhan HRS dan Novel, berkumpul dalam aksi 212 dalam kerangkeng semburan virus pandemi yang mematikan itu, adalah kebodohan telak.

Nafsunya HRS dan Novel mengumpulkan umat jelas punya tujuan besar. Jelas pula di belakangnya ada orang yang punya uang banyak untuk menyantuni orang-orang yang bakal datang ke aksi 212. Paling tidak uang untuk mengongkosi taksi atau sekadar membeli nasi bungkus dan air putih.

Mutif yang terlihat dari gerakan aksi 212 kali ini adalah motif politik berbungkus agama. Salah satu mutif yang sangat mencolok adalah mereka menginginkan untuk terlihat bertaji dalam urusan mengumpulkan massa dan memenangkan politik. Sayangnya masyarakat menganggap aksi itu untuk kemenangan Islam. Beginilah keadaan masyarakat jika terlalu tajklid buta kepada pemimpin yang dianggap otoritatif dan baik. Mudah ditipu oleh Bahasa agama. Dan juga mudah dimanfaatkan demi cuan.

BACA JUGA  Agenda Bangsa 2022: Membumikan Moderasi, Menghapus Perusak Negeri

Motif politik jelas dan tak terbantahkan. Apalagi jika kita sangkutpautkan dengan sejarah berdirinya gerakan 212 itu. Sejarah berdirinya gerakan 212 karena aksi panasnya politik. Aksi itu bangun untuk mendapuk dan menfilter politik sekuler dalam gelanggang pemenangan gubernur di Jakarta 2017. Alhasil Ahok kalah lalu ditahan. Dan kini Habib Rizieq juga ditahan.

Akibatnya, setelah HRS ditahan, pada  gerakan aksi 212 absen. Eksistensi HRS dan gerakan 212 mulai tergerus. Apalagi FPI juga dibubarkan negara. Terjadinya Reuni Aksi 212 tahun ini kita bisa membaca selain bermotif politik adalah untuk menunjukkan eksistensi mereka.

Reuni tahun ini bisa menjadi salah satu alat bargaining atau daya tawar kelompok PA 212 pada Pemilu 2024. Dengan menghadirkan massa, kelompok 212 ingin menunjukkan kepada partai politik maupun figur-figur yang berpotensi menjadi calon presiden dan calon wakil presiden bahwa mereka bisa menjadi salah satu ‘alat politik’ yang dapat diandalkan.

Tapi mungkinkah dengan kemungkinan adanya reuni 212 HRS bakal kembali bertaji? Yakinlah bahwa HRS dan FPI kini sangat tidak bertaji. Suara-suaranya sudah sumbang dan tidak didengerkan bahkan oleh temannya sendiri. Apalagi HRS selalu mendukung orang yang selalu kalah dan orang sering mengkhianati umat Islam: Prabowo. Kasihan, bukan?

Maka demikian, membaca reuni 212 terlalu polos jika mengatakan tidak punya motif apa-apa. Justru gelagat reuni 212 ini merupakan posisi tawar politik dari kelompok PA 212 menuju pemilu 2021, yang sebenarnya tidak bakal memiliki efek signifikan. Mereka hanya ingin menunjukkan eksistensi kepada elit, atau sekadar untuk menjebloskan masyarakat untuk dimangsa virus Covid-19. Jika hanya alasan dua itu, terlalu murah masyarakat dikumpulkan dan agama dipermainkan. Maka itu, aksi reuni 212 sinyal buruk bagi Indonesia.

Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru