31.1 C
Jakarta

Akankah Para Teroris Berhenti Saat Ramadhan?

Artikel Trending

KhazanahTelaahAkankah Para Teroris Berhenti Saat Ramadhan?
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com- “Kalau kita lihat aksi terorisme di bulan Ramadhan, kewaspadaan perlu ditingkatkan karena kasus 2019 terjadi di Malang ketika Idul Fitri, di pos polisi Kartasura di Jawa Tengah. bukan berarti menjelang akhir tidak ada potensi, tapi kewaspadaan perlu dilakukan oleh kita semua.  Karena kelompok teroris selalu mencari makna di bulan suci ramadhan dan amaliyah adalah saat ini adalah yang tepat. Oleh karena itu, penting untuk meng-incorage sektor keamanan, masyarakat, publik, stakeholders terus melakukan pencegahan. Walaupun kita tahu mandat UUD no 5 tahun 2018, secara jelas untuk melakukan pencegahan terorisme terjadi di Indonesia.”

Kalimat di atas disampaikan oleh Muhammad Syauqillah Ph.D pada diskusi yang digelar Hybrid oleh Program Studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia pada 23 April 2022 silam, yang bertajuk “Fenomena Aksi Terorisme di Bulan Ramadhan”.

Jika ditelaah, pergerakan terorisme pada saat bulan Ramadhan tidaklah mati dan berhenti karena momentum puasa. Justru, mereka terus melakukan gerakannnya. Sebab setidaknya, ada beberapa acuan dari ideologi mereka tentang, beberapa target yang harus diserang dalam proses jihad mereka, diantaranya:

Pertama, polisi dan semua tentara yang ada di setiap daerah. Bagi para teroris, mereka itu adalah toghut. Kedua, kelompok kafirun, yakni semua orang non Islam yang beribadah ke tempat selain masjid. Mereka wajib dibunuh oleh para teroris. Ketiga, kelompok fasikun, yakni kelompok muslim tapi masih menyukai musik, terlibat dalam partai politik, ataupun orang yang masih suka berteman, berkomunikasi dengan orang non-Islam.

Terorisme adalah ideologi, diperanginya tidak cukup dengan senjata

Target yang dimiliki oleh para teroris di atas, menjadi bukti bahwa terorisme tidak cukup dilawan oleh senjata. Padahal strategi memberantas teroris berdasarkan senjata-lah yang bisa kita lihat dari strategi yang dilakukan oleh pemerintah kita selama ini. Senjata digunakan untuk membunuh. Dari situ, akan ada banyak dendam yang harus dibalaskan oleh para teroris untuk melawan dendam yang dimilikinya.

Mereka bergerak karena pemikiran yang sudah terpatri dalam dirinya. Sehingga membutuhkan sebuah formulasi baru untuk menyembuhkan para teroris sehingga dibasmi, pemikiran yang ada di dalamnya.

BACA JUGA  Khilafatul Muslimin: Taktik Licik yang Bergerak Seolah-olah Pancasilais

Tidak hanya itu, Pergerakan teroris yang sampai hari ini masih menjadi PR bersama, merupakan ancaman yang terus ada dalam dinamika sosial masyarakat. Terlebih, para aktifis JAD, JI dan kelompok serupa, melakukan strategi gerakannya lebih lincah. Ditambah lagi dengan media sosial yang semakin mumpuni untuk merekrut kader yang semakin banyak, forum yang semakin dilakukan oleh kelompok-kelompok teroris.

Kenyataan tersebut sejalan dengan laporan hasil laporan Keterlibatan Perempuan dalam Ekstremisme di ASEAN, yang menunjukkan adanya peningkatan perekrutan kader secara massif dengan pelbagai motif. Ke depan, bukan tidak mungkin ketika, semakin meningkatnya penggunaan media sosial dan menjadi satu-satunya media yang digunakan oleh masyarakat, pergerakan teroris semakin menjamur dengan banyaknya alternatif  yang bisa dimanfaatkan.

Banyaknya motif yang dimiliki oleh para teroris ini, juga ditegaskan oleh Tito Karnavian, Mantan Kapolri, pada saat melakukan pelbagai antisipasi penyerangan teroris di bulan Ramadhan, yakni:

Bagi teroris, Anda berhasil menggagalkan 999 rencana kami tapi satu saja Anda gagal mendeteksi kai,  maka kami sudah sukses,” ujarnya.

Ramadhan adalah momentum puasa, tapi tidak dengan para teroris

Kalau puasa kita maknai sebagai media untuk menahan diri dari banyak hal. Tapi tidak dengan para teroris. Justru dengan puasa, mereka punya waktu yang sangat tepat untuk melancarkan aksinya. Maka, upaya preventif yang bisa dilakukan dalam mencegah adanya korban yang akan menjadi sasaran teroris, upaya keamanan, dan strategi baru yang harus dilakukan oleh seluruh pihak, harus terus dilakukan.

Memberikan ruang dialog bagi masyarakat umum, menjadi salah satu alternatif preventif yang bisa dilakukan agar masyarakat bisa menyadari tentang pergerakan teroris serta memiliki proteksi untuk hati-hati terhadap bahaya penyerangan teroris, yang kapan saja bisa terjadi.

Kesadaran bahwa para teroris memiliki 1000 cara untuk melakukan penyerangan, disertai dengan strategi yang matang, serta kesiapsiagaan yang utuh, mengharuskan kita terus berpikir untuk memilih strategi apa yang bisa diambil dalam melawan penyerangan teroris. Wallahu a’lam

Muallifah
Muallifah
Mahasiswi Magister Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Bisa disapa melalui instagram @muallifah_ifa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru