28.7 C
Jakarta

Agustus dan Rasa Bangga Walau Berbeda

Artikel Trending

Judul Buku: Anatomi Rasa, Pengarang: Ayu Utami, ISBN: 978-602-481-124-2,Tahun Terbit: 2019, Jumlah halaman: 277 halaman, Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Peresensi: M Nur Faizi.

Rasa selalu memberi warna dalam kehidupan manusia. Dalam setiap langkah, dalam setiap nafas akan selalu ada ia yang membersamainya. Namun yang menjadi masalah, banyaknya rasa sering berbenturan dengan makna. Satu makna bisa dideskripsikan dengan rasa yang berbeda. Sehingga tak jarang, muncul pemikiran yang berseberangan antara dua orang yang memahami sebuah makna dengan rasa yang berbeda. Hal ini wajar saja, karena perbedaan pemikiran memunculkan stereotip berkembangnya sebuah ilmu pengetahuan.

Tapi akan menjadi tak wajar bila perbedaan itu dihadapi dengan persaingan tidak sehat dan saling menjatuhkan.
Tidak bisa dipungkiri, Indonesia merupakan negara yang mempunyai nilai pluralitas tinggi. Nilai ini didasarkan kekayaan bahasa, suku, agama, dan keanekaragaman yang lainnya. Tak ayal, dalam setiap perjumpaan selalu ada perbedaan di antara mereka [hlm. 17]. Pada saat keluar rumah misalnya, kita bisamelihat orang yang beragama Islam sekaligus orang yang beragama Kristen. Mereka berdua berbeda pada keyakinan agama namun tetap menjaga hubungan sosialnya.

Di lain sisi, kita juga melihat konflik hebat antara dua orang dengan perbedaan yang melekat padanya. Satu kelompok mengusung suatu gagasan cemerlang namun ada kelompok lain yang menawarkan gagasan dengan makna yang tak kalah hebatnya. Mereka saling bersaing, beradu argument untuk menempatkan diri sebagai pemenang. Arti pemenang menurut mereka adalah berdiri di atas kebanggaan dengan menjatuhkan semua lawan. Arti itu tidaklah keliru namun bisa membangun konflik sosial dan persaingan tidak sehat diantara mereka. Parahnya, konflik itu akan menjadi panjang jika pelaku kekalahan tidak terima dan melakukan balas dendam [hlm. 28].

Contoh konkret dalam permasalahan ini adalah perusakan rumah ibadah. Pelaku perusakan selalu berusaha menjadi “pemenang”. Mereka menjatuhkan keyakinan orang lain sampai tataran hubungan dengan Tuhan (hal. 39). Kebenaran hanya dimiliki satu orang, kata mereka. Tak ada lagi kasihan ataupun kemanusiaan, karena perbedaan adalah bentuk pengkhianatan. Maka rasa yang berbeda harus dilenyapkan, hanya ada satu pemenang di dunia ini dan kelompok kita orangnya.

Begitu api permusuhan dinyalakan, roda kekerasan mulai berjalan. Konsep adu nasib antara kemenangan dan kekalahan dalam sebuah peperangan mulai menjadi kenyataan. Banyak yang menjadi korban, namun banyak juga yang tersenyum menang. Tidak ada lagi rasa kebersamaan apalagi persatuan, perbedaan memukul mundur persatuan.

BACA JUGA  Peran Sunan Giri dalam Islamisasi Indonesia Timur

Anugerah Rasa

Rasa, marilah kita mulai dengan menerima bahwa kata ini menggambarkan banyak pengalaman lapisan manusia. Namun ia begitu subyektif, tidak terlihat, dan tidak mudah bagi kita mengakui kedalamannya. Maka sebagian orang terjebak atau puas dalam wilayah yang dangkal. Mereka memahaminya sebantas inderawi dan sensasi belaka: nikmat, sedih, senang, marah, sendu, cinta, buta, dan lain-lain [hlm. 5]. Mereka abai akan rasa yang dalam, yang membawa kedamaian, sehingga tidak ada lagi kebencian ataupun konflik sosial untuk mengejar kemenangan.

BACA JUGA  Bentuk Negara dan Nasionalisme Kita

Untuk itu, yang pertama dilakukan adalah menarik nafas panjang dan menghembus nafas pelan, menyadari nafas kita, menghayati bahwa nafas, udara, angin, ruh bekerja bukan dengan membuat batasan melainkan dengan mengalir [hlm. 7]. Biarkanlah perbedaan itu mengalir sewajarnya, saling menghormati dan tidak saling memusuhi.
Hakikat pemenang sejati adalah ia yang bisa membangun rasa menjadi kekuatan bersama.

Menjalankan visi yang sama walau dilandasi latar belakang yang berbeda. Terpenting adalah bagaimana kita bisa mengontrol rasa kita. Senang pada waktunya, marah pada waktunya, begitupun sedih pada waktunya. Mulailah mengontrol diri dan meyakinkan hati bahwa kehidupan sosial harus dijalankan atas prinsip kebersamaan. Sebuah tujuan tidak akan menemui keberhasilan selama tidak bisa menghargai nilai-nilai perbedaan.

Maka, toleransi harus dikedepankan. Marah, tersinggung, maupun merasa benar sendiri harus dijauhkan. Hingga nantinya, ketika membuka pintu rumah, kita akan disapa oleh orang Kristen, ditolong oleh orang Buddha atau malah melihat senyum merekah dari semua agama yang berkumpul dalam sebuah wadah kebersamaan.
Rasa-rasa inilah yang harus ditumbuhkan. Jangan sampai kita terjebak dalam keegoisan.

Marilah, membangun negeri, membangun sejuta inspirasi dari nilai-nilai perbedaan yang disediakan Tuhan. Perbedaan adalah sebuah kekayaan, maka tugas kita adalah menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia kaya, Indonesia mempunyai banyak perbedaan, dan membusungkan dada sambil berkata “aku bangga walau berbeda”. Pada bulan Agustus ini, bulan di mana Proklamasi Kemerdekaan dibacakan, momen di mana rakyat bereuforia karena akan segera merdeka, semangat-semangat positif menyikapi perbedaan itu menjadi keniscayaan. Buku yang ditulis Ayu Utami ini bisa menjadi referensi menuju cita-cita tersebut.

M. Nur Faizi
M. Nur Faizi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Bergiat sebagai reporter di LPM Metamorfosa, Belajar agama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru