25.2 C
Jakarta

Agar Tidak Bosan Saat Menulis

Artikel Trending

Writer’s block, sebuah istilah yang diperkenalkan oleh psikoanalis Edmund untuk menggambarkan keadaan penulis yang tidak bisa menggambarkan apapun dalam tulisannya. Situasi seperti ini hampir dialami oleh semua penulis, dan menyebabkan stres dan kebingungan. Penulis membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menggoreskan pemikirannya. Dan, bosan menjadi tantangan terberat yang harus ditaklukkan.

Ketika seorang penulis sudah merasa bosan, ide akan sulit muncul karena fokus permasalahan menjadi hal yang sangat sulit. Inspirasi yang datang memerlukan waktu yang lama. Sehingga dalam waktu yang sekian lamanya, stres akan selalu mengintai, yang pada akhirnya meminta jatah untuk melalukan penghiburan.

Perilaku penghiburan diri yang dilakukan cenderung membuat candu. Misalnya seorang penulis yang melakukan penghiburan diri dengan menonton sebuah video ataupun berbalas percakapan dengan temannya, itu justru akan melupakan waktu berharganya untuk menulis. Target menulis yang tadinya sudah ditentukan, menjadi kacau terlupa. Maka pada konteksnya, rasa bosan ini terus menjadi hantu dalam setiap produksi karya.

Hal ini belum ditambah faktor lain, seperti lingkungan, di mana model lingkungan yang hanya mengajak untuk berhibur, memaksa emosi untuk larut bersamanya. Dan pada saat ini, keadaan bosan juga kesabaran mengalami ujian yang sesungguhnya. Mental menjadi seorang penulis hebat dipertaruhkan dari kesabarannya melatih emosi yang ada.

Memang, menulis bagi sebagian orang adalah kegiatan yang membosankan. Penyebabnya bermacam-macam, bisa karena kemampuan masih kurang, jelajah baca yang masih sempit, ataupun kekurangan motivasi menulis. Semua penyebab itu pernah dirasakan penulis dalam proses penggoresan ide. Kesabaran serta koreksi baca berulang-ulang juga bisa menjadi sebab kebosanan.

Sebuah survei dilakukan oleh Nerd Bear, media bagi pecinta komik dan gadget kepada 750 responden warga Amerika Serikat. Referensi dari survei ini adalah pencarian di Google Trend dalam periode waktu 24 Februari sampai 21 Maret 2020 mengenai hobi yang diminati masyarakat. Hasilnya, sebanyak 70 persen responden memilih menonton televisi dan film.

Membaca berada di peringkat kedua dengan 50 persen peminat. Disusul olahraga dengan 35 persen responden, kerajinan tangan dan board games dengan 33 persen responden. Sedangkan diurutan terbawah diduduki oleh belajar alat musik dengan 5 persen responden, belajar bahasa baru dengan 6 persen responden, dan menulis dengan 10 persen responden.

BACA JUGA  Tahapan yang Penting Kita Lalui dalam Menulis

Melihat rendahnya minat menulis, semakin menguatkan kyakinan akan motivasi yang belum mencukupi. Sebagian kalangan masih memandang menulis sebagai sebuah kegiatan yang memusingkan. Menulis hanyalah kegiatan yang menguras energi dan membutuhkan kesabaran tingkat tinggi. Perspektif jelek inilah yang terus menerus menggeser posisi menulis ke dalam jurang peminat rendah.

Salah satu solusi untuk mendongkrak minat menulis adalah dengan menciptakan suasana menulis yang menyenangkan. Sebisa mungkin menulis dijadikan sebagai kesibukan yang menghibur sekaligus membuat hati bahagia. Dengan cara seperti itu, perspektif-perspektif buruk yang muncul sebelumnya, bisa diganti dengan perspektif yang lebih menyenangkan.
Untuk menghilangkan kebosanan saat menulis, bisa dilakukan dengan cara menyegarkan pikiran sejenak.

BACA JUGA  Menulis Digital Selama Pandemi Ternyata Mengasyikkan

Ketika rasa bosan menghampiri, letakkan semua perangkat yang digunakan untuk menulis. Tinggalkan semua sejenak, mulai dari laptop, buku, atau apapun yang digunakan untuk menulis. Kemudian lakukan jalan-jalan sejenak untuk mencari udara segar. Atau memesan makanan dan minuman kesayangan. Namun, jangan terlalu lama untuk melepaskan tulisan dari pikiran, karena bisa saja kita terjebak pada kegiatan menunda-nunda kerjaan yang semakin membuat tertekan.

Lakukan perombakan kerangka tulisan yang telah dibuat. Mungkin saja bosan yang kamu rasakan disebabkan oleh peristiwa Writer’s block. Cara ampuh yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan melakukan perombakan. Bisa saja tulisan yang tidak selesai-selesai karena sempitnya kerangka yang dibuat, sehingga tulisan sulit dikembangkan. Dengan melakukan perombakan, bisa saja seorang penulis mempunyai perspektif baru dan siap dikembangkan seluas-luasnya.

Kebosanan itu pasti dihadapi oleh semua penulis. Hampir setiap waktu, kebosanan menghantui dalam pembuatan tulisan. Akan tetapi, bagaimana cara seseorang menyikapi rasa bosan, hal itulah yang menentukan masa depannya sebagai penulis profesional. Jika seseorang mampu menghadapi tantangan itu, maka jalan bersinar akan menemui dirinya. Jika dirinya menyerah di pertengahan jalan, maka terpaksa mimpinya harus dikubur dalam-dalam.

M. Nur Faizi
M. Nur Faizi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Bergiat sebagai reporter di LPM Metamorfosa, Belajar agama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru