25.4 C
Jakarta

Adaptasi Budaya Jaga Kebersamaan dalam Keberagaman

Artikel Trending

KhazanahOpiniAdaptasi Budaya Jaga Kebersamaan dalam Keberagaman
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com – Sebagai negara yang besar, baik dari aspek jumlah penduduk maupun luas wilayah, Indonesia memiliki banyak kebudayaan. Ragam budaya itu berasal dari aneka latar belakang, mulai suku, agama, ras, dan golongan. Belum lagi jika dikalkulasikan dengan fakta bahwa banyak orang Indonesia yang merantau ke luar negeri. Ada yang sekolah, ada pula yang bekerja. Kerap kali, mereka yang pulang dari negeri seberang, disengaja atau tidak, membawa pula budaya asing tersebut ke lingkungan lokal.

Prinsipnya, Indonesia tidak bisa mengelak dari konsekuensi budaya yang variatif. Yang menjadi masalah adalah jika warna-warni kebudayaan itu menjadi momok dan dijadikan alasan perselisihan. Kalau sudah begitu, silang pendapat tak akan kunjung selesai. Debat kusir tentang identitas yang pasti dipertahankan masing-masing orang tak mungkin menemui jalan keluar.

Selayaknya, masing-masing orang yang memiliki budaya berbeda dengan pihak lain, melakukan adaptasi. Sehingga, tiap budaya yang berbeda dalam satu lingkungan, bisa hidup berdampingan. Harmoni tercipta dan keselarasan terwujud.

Salah satu teori adaptasi budaya yang bisa dijadikan landasan praktis adalah Co-Cultural. Salah satu ilmuwan yang memopulerkan teori ini adalah Mark Orbe, melalui karyanya yang berjudul Constructing co-cultural theory: An explication of culture, power, and communication (1997). Sejatinya, Orbe cenderung mengetengahkan problem budaya minor, marjinal, atau pendatang. Meski demikian, bila ditelaah lebih lanjut, konsep Co-Cultural Orbe dapat dikontekstualisasikan pada berbagai posisi kebudayaan.

Orbe menilai, orang dengan satu entitas budaya akan mendekati budaya lain yang hasil akhirnya adalah satu di antara tiga. Pertama, terasimilasi atau menjadi menjadi bagian dari kultur lain. Kedua, ia terakomodasi atau diterima kelompok lain dengan baik, serta tetap bisa mempertahankan budayanya. Ketiga, terseparasi atau terpisah secara mutlak dengan kelompok lain. Ia mungkin bisa hidup bersama kelompok lain dalam hal-hal yang tidak menyangkut kebudayaan.

Ada sebuah gerakan dakwah Islam dari India yang agaknya sukses melakukan adaptasi budaya dan dapat dianalisis melalui teori Co-Cultural tersebut. Gerakan ini masuk Indonesia sejak sekitar 30 tahun yang lalu (As’ad Said Ali, Jamaah Tabligh, 2011) dan memiliki markas di Jawa Timur.

Saat lahir, gerakan ini sejatinya berbasis fikih pada Mahzab Hanafi. Namun, saat masuk ke Nusantara yang mayoritas mengikuti Mahzab Syafii, mereka tidak segan menggunakan model Syafii demi beradaptasi. Secara kelompok, mereka tidak mau terseret pada politik praktis dan perdebatan khilafiyah. Pasalnya, dua hal itu sering menjadi sumbu silang pendapat.

Mereka mempertahankan identitasnya. Sebagian dari mereka terlihat memakai pakaian khas india, gamis sepanjang lutut dan mengenakan celana panjang, ditambah kopiah bundar berbahan kain atau wol. Program mereka untuk keluar dan berdakwah dari rumah ke rumah pun sudah dipahami sebagai karakteristik. Di sisi lain, mereka terakomodasi dan diterima di Indonesia relatif tanpa resistensi.

Beberapa kalangan menilai mereka memiliki hubungan dengan Islam garis keras. Tapi, itu sekadar labelling prematur yang dikeluarkan dari otak yang minim referensi dan gemar menyederhanakan definisi.

Proses adaptasi budaya, hanya bisa sukses apabila interaksi antarbudaya dilakukan dengan proporsional. Interaksi itu mesti ditopang dengan komunikasi yang baik. Muaranya, budaya-budaya yang berbeda bisa hidup di masyarakat secara harmonis. Bisa menjalin kebersamaan dalam keberagaman.

BACA JUGA  Kemenangan Taliban dan Urgensi Mewaspadai Ideologi Transnasional

Sejumlah pakar, semisal William G. Scoot, menyebutkan bahwa ada lima faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antarbudaya (Tommy Suprapto, Pengantar Teori Komunikasi, 2006). Yakni, the act (perbuatan atau tingkah), the scene (setting, lingkungan, adegan), the agent (pelaku atau aktor), the agency (media atau perantara), dan the purpose (tujuan).

Apabila implementasi praktis dari lima faktor itu ideal, proses komunikasi yang menjadi pondasi adaptasi budaya bakal berjalan dengan mapan. Pembedahan lima faktor itu bisa dimulai dari the purpose, atau tujuan berkomunikasi. Tentu ada banyak bentuk tujuan dari laku komunikasi. Tiap tujuan, memiliki metode komunikasi yang berbeda.

Sebagai contoh, apabila tujuannya untuk keperluan bisnis, treatment yang dilakukan pasti berbeda dengan yang bertujuan murni untuk merekatkan hubungan sosial, atau untuk menjaga ukhuwah Islamiah. Komunikasi yang bertujuan bisnis relatif lebih lugas dan tidak bertele-tele. Sedangkan untuk hal-hal lain, umumnya dilaksanakan dengan sejumlah pendekatan psikologis, sosiologis, dan reflektif.

Dalam proses komunikasi, the act mesti dilakukan secara apik dan tidak berlebihan. Bahasa tubuh, gerakan badan, ekspresi, yang semua itu masuk kategori bahasa non-verbal harus diaplikasikan secara pas. Dalam konteks ini, ideal berarti tidak kurang dan tidak lebih. Tidak perlu terlalu menonjolkan budaya sendiri, maupun berupaya seakan-akan mengikuti budaya lawan berkomunikasi. Biasa saja, di tengah-tengah.

The scene berkenaan dengan lingkungan atau setting berkomunikasi. Setting ini mesti punya hubungan dengan tujuan berkomunikasi. Analoginya, apabila seseorang ingin melamar lawan jenisnya untuk menikah, tidak mungkin hal itu dilakukan di sebuah warung kopi yang ramai pengunjung. Itu terlalu berisiko budaya, khususnya apabila yang dilamar memiliki kultur yang berbeda.

Bisa jadi, lamaran gagal karena yang dilamar mengganggap kalau prosesi itu menjadi tidak sakral. Sepantasnya, lobang atau peluang resistensi budaya mesti ditutup serapat mungkin. Dalam konteks ini, eksperimen budaya sebaiknya tidak dilakukan secara sporadis.

Sementara itu, topik tentang the agent cenderung membahas bagaimana komunikator menyampaikan pesan baik verbal maupun non-verbal. Jadi, bahasa tubuh, gerakan badan, ekspresi, hingga model komunikasi lisan mesti diperhatikan agar tidak menyinggung lawan bicara dari budaya yang berbeda.

Ada pun the agency adalah tentang media berkomunikasi. Semua orang mesti memahami bahwa selalu ada kemungkinan perbedaan cara penyampaian pesan dilihat dari aspek media. Sedangkan media komunikasi yang bukan tatap muka, pasti memiliki celah bias (Harold Innis, The Bias of Communication, 1957). Bias komunikasi ini harus dimengerti oleh komunikator dan komunikan. Sehingga, tidak terjadi kesalahpahaman.

Dalam komunikasi tatap muka, komunikan yang tidak tahu maksud komunikator bisa langsung melakukan klarifikasi secara komprehensif. Berbeda apabila komunikasi dilakukan melalui aplikasi obrolan, telepon, media sosial, atau lain sebangsanya. Kalaupun klarifikasi terhadap pesan dilakukan, ia tidak bakal bisa holistik. Distorsi makna bisa saja terjadi. Mereka yang berasal dari budaya yang berbeda, pada proses komunikasi semacam ini, mesti beradaptasi dengan bias yang potensial muncul tanpa diduga sebelumnya.

Adaptasi budaya yang bertolak dari proses komunikasi penting dilakukan oleh masyarakat majemuk seperti Indonesia. Tidak hanya punya urgensi bagi mereka yang punya agama sama tapi berbeda budaya. Namun juga, antaragama dan antarbudaya berbeda.

Rio F. Rachman
Dosen Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang, Awardee Beasiswa 5000 Doktor Kemenag di FISIP Universitas Airlangga.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

34 KOMENTAR

  1. Terdapat 5 Faktor yang mempengaruhi komunikasi antar budaya yaitu the act (perbuatan atau tingkah), the scene (setting, lingkungan, adegan), the agent (pelaku atau aktor), the agency (media atau perantara), dan the purpose (tujuan). Dengan adanya 5 faktor tersebut maka Komunikasi yang terjalin dengan orang lain melewati antar budaya bisa sangat bagus dan Baik dan juga dapat memahami ataupun saling tukar pengetahuan melalui budaya mereka

  2. Ada 5 faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antarbudaya
    1. The act (perbuatan atau tingkah)
    Proses komunikasi yang menggunakan kategori bahasa non verbal yang biasa – biasa saja, tidak terlalu menonjolkan budayanya sendiri atau mengikuti budaya lawan komunikasinya.
    2. The scene (setting, lingkungan, adegan)
    Melakukan proses komunikasi di lingkungan yang tepat.
    3. The agent (pelaku atau aktor)
    Membahas tentang bagaimana seorang komunikator menyampaikan pesan yang baik dan tidak menyinggung lawan bicaranya.
    4. The agency (media atau perantara)
    Jika dalam komunikasi menggunakan media, kemungkinan perbedaan cara penyampaian pesan dilihat dari aspek media, komunikasinya harus saling di mengerti oleh komikator dan komunikannya agar tidak ada kesalahpahaman.
    Sedangkan dalam komunikasi tatap muka, jika komunikan tidak tahu maksud komunikator, maka dia bisa langsung melakukan klarifikasi secara komprehensif dengan komunikatornya.
    5. The purpose (tujuan)
    Memiki tujuan yang tepat dalam berkomunikasi.

    • Yulia Citra (BKI 3A)
      5 faktor yang mempengaruhi komunikasi antar budaya yaitu:
      1. The act (perbuatan atau tingkah)
      Proses ini dilakukan secara tidak berlebihan yang
      semua itu masuk kategori bahasa non-verbal
      2. The Scene (setting, lingkungan, adegan)
      The scene ini punya hubungan dengan tujuan
      berkomunikasi.
      3. The agent (pelaku atau aktor)
      The agent membahas bagaimana komunikator
      menyampaikan pesan baik verbal maupun non-
      verbal.
      4. The agency (media atau perantara)
      The agency adalah tentang media berkomunikasi.
      5. The purpose (Tujuan)
      Memiliki tujuan yang tepat dalam berkomunikasi.

  3. Yulia Citra (BKI 3 A?
    Ada 5 faktor yang mempengaruhi komunikasi antar budaya yaitu:
    1. The act ( perbuatan atau tingkah)
    2. The Scene ( setting, lingkungan, adegan)
    3. The agent (pelaku atau aktor)
    4. The agency ( media atau perantara)
    5. The purpose (Tujuan)

  4. 5 faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antar budaya yaitu: 1. The act ( perbuatan atau tingkah) dalam proses komunikasi, the act pasti di lakukan secara bagus dan tidak berlebihan. 2. The scene ( setting, lingkunga, adegan) the scene ini berkenaan dengan lingkungan atau setting berkomunikasi. Setting ini pasti punya hubungan dengan tujuan berkomunikasi. 3. The agent ( pelaku atau aktor) the agent cenderung membahas bagaimana komunikator menyampaikan pesan baik verbal maupin non verbal. 4. The agency ( media atau perantara). 5. The purpose ( tujuan ) untuk berkomunikasi.

  5. Ida nur Sifa Huyana
    Bimbingan konseling Islam (3A)
    Nim : 2019100320165

    Terdiri dari 5 faktor yaitu :
    The act > dilakukan dengan tidak berlebihan
    The scene > berkenaan dengan lingkungan/setting komunikasi
    The agent >Bagaimana dengan komunikator menyampaikan Pesan dengan baik verbal atau non verbal
    The agency > media komunikasi
    The purpose > tujuan yang di lakukan komunikasi

  6. Terdapat 5 faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antarbudaya
    1. The act~perbuatan atau tingkah
    Proses komunikasi yang menggunakan kategori bahasa non verbal.
    2. The scene ~setting, lingkungan, adegan
    Melakukan proses komunikasi di lingkungan yang tepat.
    3. The agent ~pelaku atau aktor
    Membahas tentang bagaimana seorang komunikator menyampaikan pesan yang baik dan tidak menyinggung lawan bicaranya.
    4. The agency~media atau perantara
    Jika dalam komunikasi menggunakan media.
    5. The purpose~tujuan
    Memiki tujuan yang tepat dalam berkomunikasi.

  7. Proses adaptasi budaya akan sukses apabila dengan adanya interaksi yang proporsional dan dengan interaksi tersebut tidak akan luput dengan adanya komunikasi yang baik. Sejumlah pakar menyebutkan bahwa ada 5 faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antar budaya
    1. perbuatan atau tingkah
    2. Setting, lingkungan, adegan
    3. Pelaku atau aktor
    4. Media atau pelantara
    5. Tujuan
    Apabila semua faktor diatas dijalankan dengan baik maka proses antar budaya akan berjalan dengan baik pula, hanya saja jika tujuan itu berbeda maka cara berkomunikasi juga beda dan mempunyai cara tersendiri.

  8. Ada 5 faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antarbudaya
    1. The act (perbuatan atau tingkah)
    Proses komunikasi yang menggunakan kategori bahasa non verbal yang biasa – biasa saja, tidak terlalu menonjolkan budayanya sendiri atau mengikuti budaya lawan komunikasinya.
    2. The scene (setting, lingkungan, adegan)
    Melakukan proses komunikasi di lingkungan yang tepat.
    3. The agent (pelaku atau aktor)
    Membahas tentang bagaimana seorang komunikator menyampaikan pesan yang baik dan tidak menyinggung lawan bicaranya.
    4. The agency (media atau perantara)
    Jika dalam komunikasi menggunakan media, kemungkinan perbedaan cara penyampaian pesan dilihat dari aspek media, komunikasinya harus saling di mengerti oleh komikator dan komunikannya agar tidak ada kesalahpahaman.
    5. The purpose (tujuan)
    Memiki tujuan yang tepat dalam berkomunikasi.

  9. Ada 5 faktor yang mempengaruhi komunikasi antar budaya :
    1. The Act (tingkah laku) dalam konteks ini kita harus sebisa mungkin bersikap ideal, dalam artian kita tidak perlu menonjolkan budaya sendiri dan tidak pula berupaya untuk mengikuti budaya lawan
    2. The Scene (lingkungan,adegan,dan komunikasi) dimana dalam konteks ini kita harus sebisa mungkin menempatkan komunikasi yang tepat pada tempat yang tepat pula.
    3. The Agent (pelaku/faktor) hal ini membahas tentang bagaimana seorang komunikator menyampaikan pesan yang verbal atau non verbal tanpa menyinggung lawan bicaranya
    4. The Agency (media atau perantara) hal ini menyangkut tentang media komunikasi, apabila dalam komunikasi kita menggunakan media sebagai alat komunikasi itu
    5. The Porpouse (tujuan) setiap orang yang melakukan komunikasi harus memiliki maksud dan tujuan yang tepat.

  10. Ada 5 faktor yang mempengaruhi komunikasi antar budaya:
    1. The scene (adegan), adegan sebagai salah satu faktor komunikasi ini menekankan hubungannya dengan lingkungan komunikasi.
    2. The act (perbuatan), bahasa non verbal harus dilakukan dengan pas.
    3. The agent (pelaku) , membahas tentang bagaimana komunikator menyampaikan pesan verbal maupun non verbal.
    4. The agency (perantara), tentang media komunikasi.
    5. The purpose (tujuan komunikasi).

  11. Terdapat 7 faktor. Yakni
    1.Persepsi diri
    Sebagaimana komunikasi pada umumnya dimana suatu komunikasi akan terjadi ketika terdapat persepsi diri yang cukup layak untuk melakukan komunikasi dengan orang lain, terutama dengan orang yang budayanya berbeda.

    2. Ketertarikan
    Perbedaan budaya yang terjadi pada dua personal yang berkomunikasi juga dapat menjadi faktor munculnya komunikasi antar budaya yang diakibatkan adanya rasa tertarik satu sama lain. Rasa saling tertarik satu sama lain menjadi penyebab paling besar terjadinya komunikasi antar budaya.

    3. Pembelajaran
    Faktor munculnya komunikasi antar budaya lainnya adalah pembelajaran. Banyak orang yang melakukan penelitian terhadap kebudayaan lain untuk dipelajari lebih lanjut, baik untuk tujuan ilmu pengetahuan maupun tujuan lainnya.

    4. Sikap menghormati kebudayaan lain
    Selain rasa ketertarikan yang besar, rasa menghormati kebudayaan orang lain juga menjadi pemicu timbulnya komunikasi antar budaya. Rasa menghargai dan menghormati kebudayaan bangsa lain membuat seseorang menjadi tertarik untuk menjadi bagian dari kebudayaan tersebut.
    Kepentingan ekonomi

    5.Kepentingan ekonomi
    Komunikasi antar budaya juga bisa terjadi akibat adanya kepentingan ekonomi. Hal ini banyak terjadi pada hampir semua negara di seluruh dunia.

    6. Kepentingan politik
    Setiap negara bukan hanya memiliki kepentingan ekonomi, namun juga ada kepentingan politik antar negara. Dari adanya kepentingan politik antar negara inilah muncul komunikasi antar budaya.

    7. Keanggotaan

    Saat ini, telah banyak didirikan beberapa komunitas atau kelompok tertentu. Komunitas ini bukan hanya berisikan orang-orang yang ada di satu daerah saja, melainkan bisa di seluruh dunia.

  12. Nama: Anna Roihatul Karomah
    Kelas: BKI 3A
    Nim: 2020100320201
    ada lima faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antarbudaya Yakni: 1. Perbuatan atau tingkah 2. setting, lingkungan, adegan 3.pelaku atau aktor 4.media atau perantara dan 5.tujuan.
    Adaptasi budaya yang bertolak dari proses komunikasi penting dilakukan oleh masyarakat majemuk seperti Indonesia. Tidak hanya punya urgensi bagi mereka yang punya agama sama tapi berbeda budaya. Namun juga, antaragama dan antarbudaya berbeda.

  13. Ada 5 faktor yang mempengaruhi komunikasi antar budaya:
    1. The scene (adegan), adegan sebagai salah satu faktor komunikasi ini menekankan hubungannya dengan lingkungan komunikasi.
    2. The act (perbuatan), bahasa non verbal harus dilakukan dengan pas.
    3. The agent (pelaku) , membahas tentang bagaimana komunikator menyampaikan pesan verbal maupun non verbal.
    4. The agency (perantara), tentang media komunikasi.
    5. The purpose (tujuan komunikasi).

  14. # 5 faktor yg mempengaruhi komunikasi antar budaya:
    1.The scene “lingkungan, adegan & komunikasi”
    2.The act “perbuatan/tingkah laku”
    3. The purpose “tujuan komunikasi ”
    4.The Agent “pelaku “menyampaikan pesan yang verbal atau non verbal tanpa menyinggung lawan bicaranya.
    5.The Agency “Perantara ”
    Jika dalam komunikasi menggunakan media.

  15. # 5 faktor yg mempengaruhi komunikasi antarbudaya:
    1-The scene “adegan” salah satu faktor komunikasi, menekankan hubungannya dengan lingkungan komunikasi yg baik.
    2-The Purpose “tujuan ” berkomunikasi.
    3-The agent “pelaku ” komunikasi.
    4-The agency “media/perantara ” berkomunikasi.
    5-The act “tingkah laku ” komunikasi.

  16. Ada 5 faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antarbudaya:
    1. The act (Perbuatan atau tingkah laku)
    2. The scene (Setting, lingkungan, adegan)
    3. The agent (Pelaku atau aktor)
    4. The agency (Media atau perantara)
    5. The purpose (Tujuan)

  17. ada lima faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antarbudaya , Yakni, the act (perbuatan atau tingkah), the scene (setting, lingkungan, adegan), the agent (pelaku atau aktor), the agency (media atau perantara), dan the purpose (tujuan).
    1.the act mesti dilakukan secara apik dan tidak berlebihan. Bahasa tubuh, gerakan badan, ekspresi, yang semua itu masuk kategori bahasa non-verbal harus diaplikasikan secara pas. Dalam konteks ini, ideal berarti tidak kurang dan tidak lebih. Tidak perlu terlalu menonjolkan budaya sendiri, maupun berupaya seakan-akan mengikuti budaya lawan berkomunikasi. Biasa saja, di tengah-tengah.
    2.The scene berkenaan dengan lingkungan atau setting berkomunikasi. Setting ini mesti punya hubungan dengan tujuan berkomunikasi. Analoginya, apabila seseorang ingin melamar lawan jenisnya untuk menikah, tidak mungkin hal itu dilakukan di sebuah warung kopi yang ramai pengunjung. Itu terlalu berisiko budaya, khususnya apabila yang dilamar memiliki kultur yang berbeda.
    3.the agent cenderung membahas bagaimana komunikator menyampaikan pesan baik verbal maupun non-verbal. Jadi, bahasa tubuh, gerakan badan, ekspresi, hingga model komunikasi lisan mesti diperhatikan agar tidak menyinggung lawan bicara dari budaya yang berbeda.
    4.the agency adalah tentang media berkomunikasi. Semua orang mesti memahami bahwa selalu ada kemungkinan perbedaan cara penyampaian pesan dilihat dari aspek media
    5.the purpose, atau tujuan berkomunikasi. Tentu ada banyak bentuk tujuan dari laku komunikasi. Tiap tujuan, memiliki metode komunikasi yang berbeda.sebagai contoh, apabila tujuannya untuk keperluan bisnis, treatment yang dilakukan pasti berbeda dengan yang bertujuan murni untuk merekatkan hubungan sosial, atau untuk menjaga ukhuwah Islamiah. Komunikasi yang bertujuan bisnis relatif lebih lugas dan tidak bertele-tele. Sedangkan untuk hal-hal lain, umumnya dilaksanakan dengan sejumlah pendekatan psikologis, sosiologis, dan reflektif.

  18. Ada 5 faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antarbudaya , yaitu :
    1. the act (perbuatan atau tingkah)
    2. the scene (setting, lingkungan, adegan)
    3. the agent (pelaku atau aktor)
    4. the agency (media atau perantara)
    5. the purpose (tujuan)

  19. Ada 5 faktor yang mempengaruhi komunikasi antar budaya :
    1. The Act (tingkah laku) dalam konteks ini kita harus sebisa mungkin bersikap ideal, dalam artian kita tidak perlu menonjolkan budaya sendiri dan tidak pula berupaya untuk mengikuti budaya lawan
    2. The Scene (lingkungan,adegan,dan komunikasi) dimana dalam konteks ini kita harus sebisa mungkin menempatkan komunikasi yang tepat pada tempat yang tepat pula.
    3. The Agent (pelaku/faktor) hal ini membahas tentang bagaimana seorang komunikator menyampaikan pesan yang verbal atau non verbal tanpa menyinggung lawan bicaranya
    4. The Agency (media atau perantara) hal ini menyangkut tentang media komunikasi, apabila dalam komunikasi kita menggunakan media sebagai alat komunikasi itu
    5. The Porpouse (tujuan) setiap orang yang melakukan komunikasi harus memiliki maksud dan tujuan yang tepat.

  20. 5 faktor yang mempengaruhi komunikasi antar budaya adalah
    1. The act
    2. The scene
    3. The agent
    4. The purpose
    5. The agency

  21. Terdapat 5 faktor yang mempengaruhi komunikasi antar budaya antara lain:
    1. The act (perbuatan/tingkah) Dilakukan secara apik dan tidak berlebihan, Misalnya bahasa tubuh, Gerakan badan, Ekspresi yang semua itu masuk kategori bahasa non verbal secara pas
    2. The scene ( Setting ,Lingkungan, Adegan) Berkenaan dengan lingkungan atau setting berkomunikasi.
    3. The agent (Pelaku/actor) Cenderung membahas tentang bagaimana komunikator menyampaikan pesan baik verbal maupun non verbal.
    4. The agency ( Media/perantara) Tentang media berkomunikasi
    5. The purpose ( Tujuan) Memiliki metode komunikasi yang berbeda tujuannya untuk keperluan bisnis, treat ment untuk merekatkan hubungan sosial, Atau untuk menjaga ukhuwah islamiah.

  22. Terdapat 5 faktor yang mempengaruhi komunikasi antar budaya antara lain:
    1. The act (perbuatan/tingkah) Dilakukan secara apik dan tidak berlebihan, Misalnya bahasa tubuh, Gerakan badan, Ekspresi yang semua itu masuk kategori bahasa non verbal secara pas
    2. The scene ( Setting ,Lingkungan, Adegan) Berkenaan dengan lingkungan atau setting berkomunikasi.
    3. The agent (Pelaku/actor) Cenderung membahas tentang bagaimana komunikator menyampaikan pesan baik verbal maupun non verbal.
    4. The agency ( Media/perantara) Tentang media berkomunikasi
    5. The purpose ( Tujuan) Memiliki metode komunikasi yang berbeda tujuannya untuk keperluan bisnis, treat ment untuk merekatkan hubungan sosial, Atau untuk menjaga ukhuwah islamiah.

  23. Ada 5 faktor yang mempengaruhi komunikasi antar budaya :
    1. The Act ( bahasa tubuh atau tingkah laku)
    Kita harus bersikap ideal, yaitu tidak menonjolkan budaya sendiri maupun budaya orang lain.
    2. The Scene (berkenaan dengan lingkungan, komunikasi) kita harus menempatkan komunikasi yang

  24. Ada 5 faktor yang mempengaruhi komunikasi antar budaya :
    1. The Act ( bahasa tubuh atau tingkah laku)
    Kita harus bersikap ideal, yaitu tidak menonjolkan budaya sendiri maupun budaya orang lain.
    2. The Scene (berkenaan dengan lingkungan, komunikasi) kita harus menempatkan komunikasi yang tepat dan pada tempat yang pas.
    3. The Agent (pelaku/faktor) berkenaan dengan cara komunikator menyampaikan pesan tanpa menyinggung lawan bicaranya.
    4. The Agency (media atau perantara) berkenaan dengan media yang digunakan untuk menyampaikan pesan.
    5. The Porpouse (tujuan komunikasi) berkenaan dengan orang yang berkomunikasi harus memiliki tujuan.

  25. Ada 5 faktor yang mempengaruhi komunikasi antar budaya :
    1. The Act (tingkah laku bahasa tubuh) yaitu kata harus mampu untuk bersikap ideal. Tidak menonjolkan budaya sendiri maupun budaya orang lain.
    2. The Scene (lingkungandan komunikasi) yaitu kita harus menempatkan komunikasi yang tepat dan pada tempat yang pas.
    3. The Agent (pelaku/faktor) berkenaan dengan cara komunikator menyampaikan pesan tanpa menyinggung lawan bicaranya.
    4. The Agency (media atau perantara) yaitu berkenaan dengan media yang digunakan untuk menyampaikan pesan.
    5. The Porpouse (tujuan) berkenaan dengan tujuan komunikator berkomunikasi.

  26. Adapun 5 faktor yang mempengaruhi komunikasi antar budaya:
    1. The scene (adegan), adegan sebagai salah satu faktor komunikasi ini menekankan hubungannya dengan lingkungan komunikasi.
    2. The act (perbuatan), bahasa non verbal harus dilakukan dengan pas.
    3. The agent (pelaku) , membahas tentang bagaimana komunikator menyampaikan pesan verbal maupun non verbal.
    4. The agency (perantara), tentang media komunikasi.
    5. The purpose (tujuan komunikasi).

  27. ada lima faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antarbudaya (Tommy Suprapto, Pengantar Teori Komunikasi, 2006). Yakni, the act (perbuatan atau tingkah), the scene (setting, lingkungan, adegan), the agent (pelaku atau aktor), the agency (media atau perantara), dan the purpose (tujuan).

    *the act” mesti dilakukan secara apik dan tidak berlebihan. Bahasa tubuh, gerakan badan, ekspresi, yang semua itu masuk kategori bahasa non-verbal harus diaplikasikan secara pas. Dalam konteks ini, ideal berarti tidak kurang dan tidak lebih. Tidak perlu terlalu menonjolkan budaya sendiri, maupun berupaya seakan-akan mengikuti budaya lawan berkomunikasi. Biasa saja, di tengah-tengah.

    *The scene” berkenaan dengan lingkungan atau setting berkomunikasi. Setting ini mesti punya hubungan dengan tujuan berkomunikasi. Analoginya, apabila seseorang ingin melamar lawan jenisnya untuk menikah, tidak mungkin hal itu dilakukan di sebuah warung kopi yang ramai pengunjung. Itu terlalu berisiko budaya, khususnya apabila yang dilamar memiliki kultur yang berbeda.

    *the agent” cenderung membahas bagaimana komunikator menyampaikan pesan baik verbal maupun non-verbal. Jadi, bahasa tubuh, gerakan badan, ekspresi, hingga model komunikasi lisan mesti diperhatikan agar tidak menyinggung lawan bicara dari budaya yang berbeda.

    *the agency” adalah tentang media berkomunikasi. Semua orang mesti memahami bahwa selalu ada kemungkinan perbedaan cara penyampaian pesan dilihat dari aspek media. Sedangkan media komunikasi yang bukan tatap muka, pasti memiliki celah bias (Harold Innis, The Bias of Communication, 1957). Bias komunikasi ini harus dimengerti oleh komunikator dan komunikan. Sehingga, tidak terjadi kesalahpahaman.

    *the purpose”, atau tujuan berkomunikasi. Tentu ada banyak bentuk tujuan dari laku komunikasi. Tiap tujuan, memiliki metode komunikasi yang berbeda.

  28. ada lima faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antarbudaya Yakni,
    1.the act
    2.the scene
    3.the agent
    4.the agency
    5.the purpose (tujuan).

    *the act” mesti dilakukan secara apik dan tidak berlebihan. Bahasa tubuh, gerakan badan, ekspresi, yang semua itu masuk kategori bahasa non-verbal harus diaplikasikan secara pas. Dalam konteks ini, ideal berarti tidak kurang dan tidak lebih. Tidak perlu terlalu menonjolkan budaya sendiri, maupun berupaya seakan-akan mengikuti budaya lawan berkomunikasi. Biasa saja, di tengah-tengah.

    *The scene” berkenaan dengan lingkungan atau setting berkomunikasi. Setting ini mesti punya hubungan dengan tujuan berkomunikasi. Analoginya, apabila seseorang ingin melamar lawan jenisnya untuk menikah, tidak mungkin hal itu dilakukan di sebuah warung kopi yang ramai pengunjung. Itu terlalu berisiko budaya, khususnya apabila yang dilamar memiliki kultur yang berbeda.

    *the agent” cenderung membahas bagaimana komunikator menyampaikan pesan baik verbal maupun non-verbal. Jadi, bahasa tubuh, gerakan badan, ekspresi, hingga model komunikasi lisan mesti diperhatikan agar tidak menyinggung lawan bicara dari budaya yang berbeda.

    *the agency” adalah tentang media berkomunikasi. Semua orang mesti memahami bahwa selalu ada kemungkinan perbedaan cara penyampaian pesan dilihat dari aspek media. Sedangkan media komunikasi yang bukan tatap muka, pasti memiliki celah bias (Harold Innis, The Bias of Communication, 1957). Bias komunikasi ini harus dimengerti oleh komunikator dan komunikan. Sehingga, tidak terjadi kesalahpahaman.

    *the purpose”, atau tujuan berkomunikasi. Tentu ada banyak bentuk tujuan dari laku komunikasi. Tiap tujuan, memiliki metode komunikasi yang berbeda.

  29. Menurut seorang pakar bernama William G. Scoot, ada lima faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antar budaya;

    1) The Act (perbuatan atau tingkah)>> dalam proses komunikasi, the act harus dilakukan secara apik dan tidak berlebihan, maksudnya dalam pengaplikasian seperti bahasa non-verbal misalnya, secara ideal, tidak kurang dan tidak lebih. Tidak perlu menonjolkan budaya sendiri maupun berupaya seakan-akan mengikuti budaya lain.

    2) The Scene (setting, lingkungan, adegan)>> perlu menyesuaikan situasi dan kondisi dan sepantasnya peluang resistensi budaya mesti ditutup serapat mungkin, dan sebaiknya eksperimen budaya dilakukan secara sporadis.

    3) The Agent (pelaku atau aktor)>> yaitu bagaimana komunikator memperhatikan dan hati-hati agar tidak menyinggung lawan bicara dari budaya yang berbeda.

    4) The Agency (media atau perantara)>> jika dilihat dari aspek media, harus dipahami bahwa selalu ada kemungkinan perbedaan cara penyampaian pesan. Dan media komunikasi yang bukan tatap muka pasti memiliki bias yang mana harus dimengerti oleh komunikator dan komunikan (adanya klarifikasi secara komperehensif) untuk mencegah terjadi kesalahpahaman.

    5) The Purpose (tujuan)>> setiap tujuan memiliki komunikasi yang berbeda-beda. Ada banyak tujuan dari laku komunikasi. Komunikasi yang bertujuan bisnis relatif lebih lugas dan tidak bertele-tele. Sedangkan untuk hal-hal lain, umumnya dilaksanakan dengan sejumlah pendekatan psikologis, sosiologis dan reflektif.

    Apabila implementasi praktis dari lima faktor itu ideal, proses komunikasi yang menjadi pondasi adaptasi budaya bakal berjalan dengan mapan.

  30. Ada lima faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antarbudaya Yakni,

    1.the act ( Perbuatan atau tingkah)
    2.the scene ( Setting lingkungan, adegan)
    3.the agent ( Pelaku atau Aktor )
    4.the agency ( Media atau Penataran )
    5.the purpose (Tujuan).

    1. “the act “mesti dilakukan secara apik dan tidak berlebihan. Bahasa tubuh, gerakan badan, ekspresi, yang semua itu masuk kategori bahasa non-verbal harus diaplikasikan secara pas. Dalam konteks ini, ideal berarti tidak kurang dan tidak lebih. Tidak perlu terlalu menonjolkan budaya sendiri, maupun berupaya seakan-akan mengikuti budaya lawan berkomunikasi. Biasa saja, di tengah-tengah.

    2.”The scene” berkenaan dengan lingkungan atau setting berkomunikasi. Setting ini mesti punya hubungan dengan tujuan berkomunikasi. Analoginya, apabila seseorang ingin melamar lawan jenisnya untuk menikah, tidak mungkin hal itu dilakukan di sebuah warung kopi yang ramai pengunjung. Itu terlalu berisiko budaya, khususnya apabila yang dilamar memiliki kultur yang berbeda.

    3.” the agent” cenderung membahas bagaimana komunikator menyampaikan pesan baik verbal maupun non-verbal. Jadi, bahasa tubuh, gerakan badan, ekspresi, hingga model komunikasi lisan mesti diperhatikan agar tidak menyinggung lawan bicara dari budaya yang berbeda.

    4. “the agency” adalah tentang media berkomunikasi. Semua orang mesti memahami bahwa selalu ada kemungkinan perbedaan cara penyampaian pesan dilihat dari aspek media. Sedangkan media komunikasi yang bukan tatap muka, pasti memiliki celah bias (Harold Innis, The Bias of Communication, 1957). Bias komunikasi ini harus dimengerti oleh komunikator dan komunikan. Sehingga, tidak terjadi kesalahpahaman.

    5. “the purpose” , atau tujuan berkomunikasi. Tentu ada banyak bentuk tujuan dari laku komunikasi. Tiap tujuan, memiliki metode komunikasi yang berbeda.

  31. Nama : Dzurrotun Nafisah
    Kls : 3B
    Ada lima yaitu :
    1 .the act (perbuatan atau tingkah)
    “Proses komunikasi yang menggunakan kategori bahasa non verbal yang biasa – biasa saja, tidak terlalu menonjolkan budayanya sendiri atau mengikuti budaya lawan komunikasinya”
    2.the scene (setting, lingkungan, adegan)
    “Harus menempatkan komunikasi yang t tepat dan pada tempat yang pas ”
    3.the agent (pelaku atau aktor)
    “cenderung membahas bagaimana komunikator menyampaikan pesan baik verbal maupun non-verbal. Jadi, bahasa tubuh, gerakan badan, ekspresi, hingga model komunikasi lisan mesti diperhatikan agar tidak menyinggung lawan bicara dari budaya yang berbeda”
    4.the agency (media atau perantara)
    “jika dilihat dari aspek media, harus dipahami bahwa selalu ada kemungkinan perbedaan cara penyampaian pesan. Dan media komunikasi yang bukan tatap muka pasti memiliki bias yang mana harus dimengerti oleh komunikator dan komunikan (adanya klarifikasi secara komperhensif) untuk mencegah terjadi kesalahpahaman”
    5.the purpose (tujuan).
    “setiap orang yang melakukan komunikasi harus memiliki maksud dan tujuan yang tepat”

  32. Prinsipnya, Indonesia tidak bisa mengelak dari konsekuensi budaya yang variatif.
    Pertama, terasimilasi atau menjadi bagian dari budaya lain.
    Kedua, terakomodasi atau diterima kelompok lain dengan baik, serta tetap bisa mempertahankan budayanya.
    Interaksi itu mesti ditopang dengan komunikasi yang baik. budaya-budaya yang berbeda bisa hidup di masyarakat secara harmonis, Bisa menjalin kebersamaan dalam keberagaman. Selain itu juga dapat saling memahami sisi-sisi perbedaan antar individu. karena Indonesia merupakan negeri yang memilik ragam budaya. Dan inilah perbedaan yang harus dipertahankan, dipelihara dan dilestarikan.
    Ada 5 faktor yang mempengaruhi proses komunikasi antarbudaya , yaitu :
    1. the act (perbuatan atau tingkah)
    2. the scene (setting, lingkungan, adegan)
    3. the agent (pelaku atau aktor)
    4. the agency (media atau perantara)
    5. the purpose (tujuan)

  33. Indonesia memiliki banyak kebudayaan. Ragam budaya tersebut berasala dari aneka latar belakang, mulai suku, agama, ras dan golongan.
    Menurut saya, yang menjadi masalah adalah jika keberagaman budaya tersebut menjadi momok dan menjadi alasan perselisihan antar golongan, kalau begitu silang pendapat tak akan kunjung selesai. Selayaknya, masing yang memiliki budaya berbeda dalam satu lingkungan bisa hidup berdampingan, harmonis dan keselarasan terwujud. Disini kita dapat melihat pentingnya komunikasi antar budaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru