25.4 C
Jakarta

9 Nilai Dasar Gus Dur

Artikel Trending

KhazanahResensi Buku9 Nilai Dasar Gus Dur
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Tidak banyak orang yang gagasan pemikirannya terus menerus dikaji. KH Abdurrahman Wahid atau yang sering disapa Gus Dur adalah salah satu orang yang pemikirannya terus menerus diperbincangkan banyak manusia meskipun dirinya telah wafat.

Gus Dur merupakan salah satu ulama yang mempunyai pengaruh kuat di masyarakat. Dirinya tidak hanya menyumbangkan gagasan terhadap suatu permasalahan, namun juga turut memperjuangkan pemikiran yang telah dituangkan.

Banyak penulis yang mencatat biografi Gus Dur lengkap dengan pemikiran uniknya dalam mengatasi permasalahan. Dalam sejarah hidupnya, Gus Dur pernah bergelut dalam dunia pesantren, menjadi pengurus salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia (NU), terjun ke dunia politik hingga menjadi pemimpin bangsa. Semua hal yang telah dilaluinya tidak bisa dipisahkan dari pemikirannya yang kuat dan tajam.

Sekitar akhir tahun 2011, sejumlah tokoh seperti KH Mustofa Bisri, Ahmad Tohari, Marsilam Simanjuntak, dan lain-lain berkumpul dalam sebuah simposium tentang Gus Dur di Jakarta (hal. 16). Dalam simposium tersebut melahirkan 9 nilai dasar prisma Gus Dur. Dimana kesembilan nilai itu menggambarkan pemikiran dan tindakan Gus Dur yang sangat luas.

Dengan 9 nilai ini dapat membantu kita untuk memahami arah pemikiran yang diungkapkan Gus Dur dalam berbagai permasalahan. Harapannya, 9 nilai ini dapat menjadi gagasan hidup yang menginspirasi banyak orang, bahkan dapat dikembangkan lebih luas lagi.

9 nilai itu adalah ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kesatriaan, dan kearifan lokal (hal. 17). Rumusan ini tertera dalam berbagai macam tulisan yang dimuat di berbagai Koran ternama.

  1. Ketauhidan

Ketauhidan merupakan basis pemikiran yang menjadi dasar dari semua pemikiran Gus Dur. Tidak ada hal yang lebih utama dibandingkan pengakuan seorang hamba terhadap keEsaan Tuhannya. Dengan pemikiran ini, kita dapat menyadari bahwa Tuhan adalah pengatur segalanya. Dia mempunyai hak prerogratif tersendiri dalam mengatur jalannya alam semesta ini. Dia tidak bisa dipaksa oleh pihak manapun dalam menentukan keputusanNya.

Sebagai seorang yang mempunyai tradisi pesantren kuat, Gus Dur memadukan ilmu Tauhid dengan sejumlah ilmu yang lainnya. Misalnya dalam berbagai pemikiran Gus Dur memadukan ilmu Tauhid dengan Tasawuf.

 

  1. Kemanusiaan

Gus Dur hadir dalam sejumlah kasus kemanusiaan, termasuk yang dialami sejumlah tokoh. Meskipun tokoh tersebut berasal dari golongan yang berseberangan dengannya, Gus Dur akan membelanya jika tokoh tersebut mendapatkan perlakuan yang tidak sepantasnya didapatkan.

 

  1. Keadilan

Gus Dur tidak pernah lelah membela kaum minoritas yang selalu tertindas kaum mayoritas. Bagi Gus Dur, keadilan adalah salah satu hal pokok untuk mencapai perdamaian. Kebanyakan orang terus menerus menyerukan perdamaian, namun dirinya lupa akan nasib sesama yang merasa tertindas.

Disinilah peran Gus Dur sebagai penyeimbang antara kaum minoritas dan mayoritas. Beliau memilih berdiri diantara keduanya dibandingkan terkotak dalam kesempitan identitas. Menganggap semua golongan sama dan harus diperlakukan dengan prinsip keadilan.

BACA JUGA  Mengenal Yudian: Belajar Pancasila pada Nakhoda BPIP

 

  1. Kesetaraan

Gus Dur merupakan sosok yang gemar memperjuangkan kesetaraan. Pernah ia memperjuangkan kesetaraan Gender. Bagi dirinya derajat pria dan wanita adalah sama. Tidak ada yang membedakan derajat antara keduanya.

 

  1. Pembebasan

Konstruksi Pembebasan pemikiran Gus Dur masih terkenang utuh dalam Keputusan Presiden (Kepres) No. 6 Tahun 2000. Dimana Gus Dur mencabut Instruksi Presiden (Inpres) No. 14 Tahun 1967 yang memuat pembatasan agama, kepercayaan, dan adat istiadat masyarakat Cina. Pada puncaknya, Gus Dur menetapkan perayaan Imlek sebagai hari libur Nasional.

Dengan ini Gus Dur telah membebaskan kekangan diskriminasi pada kaum minoritas. Membebaskan sekat-sekat peribadatan yang selama ini mengganggu mereka.

  1. Kesederhanaan

Ketika menjabat sebagai pemimpin bangsa, pernah suatu ketika Gus Dur berkunjung ke rumah shahabatnya. Gus Dur meminta untuk digelarkan karpet di lantai sebagai tempat tidur. Katanya, Gus Dur tidak pernah betah tidur di atas bed (hal. 64).

Itulah Gus Dur yang tidak pernah berubah baik sebelum menjadi presiden maupun ketika menjabat sebagai presiden. Sifat kesederhanaannya masih lekat dalam dirinya. Kesederhanaan Gus Dur dalam berbagai aspek bisa dijadikan pelajaran dan tauladan bagi kita.

 

  1. Persaudaraan

Persaudaraan adalah hasil dari pengamalan nilai kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan semangat menggerakkan kebaikan. Persaudaraan telah menjadi solusi dalam berbagai permasalahan internal bangsa. Dibandingkan jalan keras dan kaku, Gus Dur lebih memilih melakukan dialog-dialog yang tidak menyakiti semua golongan.

Misalnya dalam kasus pengibaran bendera bintang kejora di Papua. Gus Dur tidak lantas memberantas pengibar bendera tersebut. Namun beliau menekankan prinsip persaudaraan dan memilih bernegosiasi. Menurut Gus Dur, pengibaran bendera tersebut diperbolehkan asal tidak lebih tinggi dari bendera merah putih.

 

  1. Kesatriaan

Masih hangat ingatan kita bagaimana prosesi pelengseran Gus Dur dari kursi kepemimpinan. Begitu banyak orang yang menginginkan dirinya lebih lama duduk di kursi kuasa, bahkan pendukungnya rela mengorbankan nyawa demi membela kedudukannya.

Meskipun begitu, Gus Dur tidak lantas mengerahkan pendukungnya untuk bersama-sama membelanya. Beliau memilih mengundurkan diri dan meminta pendukungnya untuk bersikap tenang dan ikhlas akan keadaan. Karena dikhawatirkan ketika pendukungnya turun membelanya, akan terjadi pertumpahan darah antara aparatur negara dan pendukungnya.

Gus Dur telah menunjukkan sikap kesatrianya. Dengan tidak bersikap ambisius pada jabatan dan memilih keselamatan pendukungnya sebagai jalan utama.

 

  1. kearifan lokal

Gus Dur mempunyai kesukaan tersendiri pada wayang kulit. Dia mengagumi sosok Semar yang digambarkan sebagai manusia setengah dewa. Dengan bentuk perut buncit dan gemar melakukan banyolan namun berpikir kritis dan tajam. Meskipun Gus Dur telah melalang buana ke seluruh penjuru dunia. Namun dirinya tidak bisa lepas akan pemikiran klasik yang dihasilkan nenek moyang dalam kearifan lokal.

 

Judul Buku    : Ajaran-Ajaran Gus Dur

Pengarang     :  Nur Kholik Ridwan

ISBN                : 978-602-5781-62-9

Tebal Buku     : 180 halaman

Penerbit          : Noktah

Tahun Terbit   : 2019

M. Nur Faizi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Bergiat sebagai reporter di LPM Metamorfosa, Belajar agama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru