27.8 C
Jakarta

63 Pejabat Serentak Tangani Insiden Radikalisme di Sragen

Artikel Trending

AkhbarDaerah63 Pejabat Serentak Tangani Insiden Radikalisme di Sragen
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

Harakatuna.com. Sregen – Indikasi insiden radikalisme dan intoleransi yang sempat melanda dua sekolah favorit di Sragen. Yaitu di SMKN 2 Sragen dan SMAN 1 Gemolong. Kedua sekolah ini rupanya masih menjadi perhatian serius semua pihak.

Setelah Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo memberikan pembinaan rohis di semua SMA/K di Sragen beberapa waktu lalu, kali ini giliran Pemkab Sragen tersentak.

Bupati dan 63 jajaran pejabat Forkompida hingga camat, besok pagi, Senin (10/2/2020) bakal dikerahkan terjun menjadi pembina upacara serentak di 64 SMA dan SMK di seluruh Sragen.

Puluhan SMA/SMK sederajat se- Kabupaten Sragen itu bakal mendapatkan sosialisasi wawasan kebangsaan dan deradikalisasi. Wawasan ini akan disampaikan melalui upacara yang disampaikan oleh semua pejabat yang sudah ditunjuk. Hal itu tak lain untuk mengatasi insiden radikalisme yang sempat berkembang.

Upacara dan apel yang akan diambil oleh para pejabat Forkompinda, Pejabat OPD dan Muspika Kabupaten Sragen itu nantinya diarahkan untuk menekankan sosialisasi wawasan kebangsaan dan deradikalisasi.

Sekda Sragen, Tatag Prabawanto membenarkan adanya agenda upacara dan pembinaan siswa secara serentak itu. Ia mengatakan Pemkab sudah membagi semua pejabat forum komunikasi pimpinan daerah (Forkompinda) beserta instansi vertikal se Sragen untuk bertugas menjadi irup di 64 SMA/SMK yang ada.

Baca Juga :  Sempat Mencekam, Listrik di Semua Ruangan Ujian SKD CPNS Sragen Mendadak Mati Semua Saat Ujian Berlangsung. Panitia Sempat Ketar-Ketir

Peningkatan wawasan kebangsaan itu dipandang sangat penting karena belum lama ini rentetan insiden intoleransi dan juga ancaman radikalisme melalui ekstrakurikuler Rohis sempat terjadi di SMKN 2 Sragen dan SMAN 1 Gemolong.

BACA JUGA  Kesbangpol NTT Ajak Kaum Muda Terlibat dalam Pencegahan Radikalisme

Menurut Tatag, upacara serentak ini untuk memberikan pemantapan kepada semua pelajar SMA/SMK di Sragen. Menurutnya tujuan utamanya adalah menghindari radikalisme dan intoleransi serta lebih mencintai negeri dan Pancasila.

Selain itu melalui pembinaan serentak itu, diharapkan bisa menumbuhkembangkan rasa kebangsaan pada anak anak. Sekda tak menampik kasus Rohis yang terjadi di dua sekolah beberapa waktu lalu menjadi instrospeksi semua pihak.

Bahwa selama ini Pancasila sesuatu yang terpinggirkan terhadap kehidupan bernegara dan berbangsa, apalagi terkait ideologi bangsa.

“Dengan kejadian itu harus menjadi Instrospeksi bahwa selama ini sesuatu yang terpinggirkan terhadap kehidupan bernegara dan berbangsa apalagi terkait ideologi bangsa,” paparnya kepada wartawan, Minggu (9/2/2020).

Baca Juga :  Pengakuan Wakil Ketua DPC PDIP Sragen Tersangka Korupsi Alsintan. Jatah Uang Terimakasihnya Separuh Dari Pungutan, Apakah Ada Setoran ke Atasnya?

Sekda menambahkan, seluruh pembina upacara akan membacakan sambutan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati.

Namun tidak menutup kemungkinan melakukan improvisasi untuk menguatkan pemahaman Pancasila kepada anak- anak.

Untuk sementara, pembinaan lewat upacara baru menyentuh SMA/SMK se- Sragen. Namun ke depan tidak menutup kemungkinan akan dilakukan di tingkat SMP/MTS hingga tingkat sekolah dasar.

Mengingat semenjak reformasi digulirkan, menurutnya Pancasila seolah terabaikan dan anak-anak pun tak lagi paham.

“Kehidupan berbangsa dan bernegara serta nilai-nilai Pancasila perlu kembali jadi fokus dan perhatian semua pihak,” tandasnya.

Ahmad Fairozi
Ahmad Fairozihttps://www.penasantri.id/
Mahasiswa UNUSIA Jakarta, Alumni PP. Annuqayah daerah Lubangsa

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

Artikel Terbaru