25 C
Jakarta
Array

5700 KM Menuju Surga (Bagian IX)

Artikel Trending

5700 KM Menuju Surga (Bagian IX)
Dengarkan artikel ini
image_pdfDownload PDF

ARAHKANLAH SEMUA TELAPAK TANGAN KE TANAH KECUALI TANGANMU

Hari itu Senad baru saja menginjakkan kaki di kota Memci, kota indah yang kini gersang dan tandus karena sudah bertahun-tahun lamanya hujan tak turun ke bumi. Senad memasuki kota kecil itu dengan penuh tanda tanya, sepanjang mata memandang dia hanya menyaksikan kegersangan dan kekeringan. Masyarakat merasakan kesulitan setiap bersentuhan dengan kebutuhan air. Sehingga menyebabkan mereka berusaha bertahan hidup dengan kondisi apa adanya.

Ketika Senad memasuki kota ini, saat itu penduduk Memci sedang dirisaukan dengan keringnya tanah dan susahnya air akibat kemarau panjang yang melanda. Bukit pun terlihat gersang dan tumbuh-tumbuhan mulai layu karena kekurangan air. Seorang imam sebuah masjid di Memci berinisiatif untuk mengumpulkan masyarakat daerah tersebut ke sebuah bukit yang gersang untuk berdoa kepada Allah agar mereka dikarunia hujan yang selama ini tidak mereka dapatkan.

Ratusan orang saat itu sudah berkumpul di bukit yang telah mereka tentukan, sang imam naik ke atas bukit tandus penuh bebatuan, dengan suara lantang dia bertanya kepada semua yang hadir,”Apakah ada di antara kalian yang tidak pernah meninggalkan shalat, dan selalu menjalankan sunah qobliah Ashar dan sunah Maghrib?” Semua yang hadir terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Namun di antara mereka ada seseorang yang mengangkat tangannya. Betapa kaget mereka, karena yang mengangkat tangan itu seseorang yang buta huruf yang selama ini mereka acuhkan keberadaanya. Sang imam berkata,”Arahkanlah semua telapak tangan ke tanah, kecuali telapak tanganmu,” ucap sang imam kepada si buta huruf tadi. “Arahkanlah tanganmu ke langit dan berdoalah kepada Allah agar hujan turun.”

Dan beberapa saat sesudah doa itu selesai, mereka menuruni bukit satu persatu. Mereka terkejut karena tiba-tiba awan menghitam. Langit menjadi gelap gulita. Percikan air hujan menetes perlahan-lahan sampai menjadi hujan yang begitu deras. Mereka pun riang gembira menyambut turunnya hujan itu. Mereka membiarkan seluruh tubuh mereka kehujanan dan bahkan sebagian di antara mereka menengadahkan kepalanya menghadap langit dan meminum air hujan. Terimakasih ya Allah atas karunia yang Engkau berikan kepada kami, ucap mereka sambil tiada henti-henti bermain dengan air hujan  laksana anak-anak kecil yang baru bertemu dengan air dan Memci pun kini sudah basah disiram air. Kehidupan kembali terasa menyenangkan di kota itu.  ***

YA ALLAH AKU KELELAHAN

Sebagaimana biasa, Senad berjalan sepanjang hari dari sehabis shalat subuh sampai malam menjelang. Rasa haus dan lapar sudah menjadi teman yang dirasakannya sejak ia meninggalkan rumahnya di Banovici. Ia ikhlas menjalani semua itu. Tidak ada sedikit pun rasa penyesalan atau berpikir untuk mengakhiri perjalanan berat ini.

Ia terus berjalan melewati kota demi kota, desa demi desa, tanpa kenal lelah. Tanpa ia rasakan perjalanannya hari itu mengantarkan Senad sampai hari sudah mendekati tengah malam. Di musim dingin, apalagi di perkampungan, pukul 21.00 suasana benar-benar begitu lengang. Tiada seorang pun berada di luaran. Senad terus berjalan, sampai kakinya benar-benar merasakan capek yang tiada bisa ia tahan.

Ia pun terdiam di pinggiran jalan, matanya mengitari sekeliliing. Senyap. Senyap sekali. Semua orang berada di dalam rumah untuk menghindari terjangan udara musim dingin yang menggigil. Ia seakan tidak mampu lagi melangkah. Telapak kakinya panas dan semua persendiannya seperti mau copot. Sementara ia pun merasakan rasa lapar yang tiada tertahan. Tak ada yang ia kenal untuk ia bisa singgah melepaskan rasa capeknya. Sementara perbekalan pun tak ada. Senad hanya bisa mengelus-elus dada mencoba untuk bersabar dalam kondisi sulit seperti itu.

Ia terus berjalan. Tujuannya adalah mencari masjid untuk dia menginap. Karena tidur dipinggiran jalan atau di tanam dengan cuaca dingin seperti ini, bukanlah pilihan yang baik bagi kesehatannya. Kakinya terus melangkah namun tak ada satu pun masjid yang bisa ia temui, sampai akhirnya dia berhenti. Sesaat kemudian ia menumpahkan semua rasa capek dan letihnya kepada Allah SWT, dia berdoa dengan penuh khusyuk dan pengharapan akan karunia-Nya, “Ya Allah Sang Penyayang, saya kelelahan, berilah saya tempat menginap.” Pinta Senad kepada robb-nya.

Saat itu juga sebuah pintu rumah terbuka, tuan rumah keluar dan menyapa Senad dengan penuh keakraban, “Kamulah Senad Hadzic, pejalan kaki menuju Allah, pejalan kaki menuju ke Mekah, masuklah ke dalam rumahku!” Tuan rumah yang bernama Ismet Hodzic itu menyambut Senad dengan hangat. Malam itu Senad dimasakin masakan istimewa oleh isteri Ismet. Usai makan dan mengobrol dengan keluarga berhati mulia ini, Senad terlelap dalam tidur. Keesokan harinya Ismet dan keluarga mengantarkan kepergian Senad dan melepasnya dengan decak kagum dan doa. ***

YA ALLAH BIARKAN AKU KEHUJANAN

Hari itu sangat tidak bersahabat sekali bagi Senad. Angin bertiup begitu kencang menerbangkan apa saja yang disentuhnya, kilatan cahaya dilangit berpijar-pijar seumpama lidah api, ditambah dengan gemuruh dan hujan nan deras yang membasahi bumi. Dalam kondisi yang begitu ekstrim, Senad terus berjalan menembus kegelapan cuaca akibat hujan dan langit yang menghitam.

Jalanan di Sokolac, kota yang terletak di bagian timur Sarajevo, begitu terjal, menanjak, dan curam membuat Senad harus mengeluarkan energi ekstra melewati kota yang terletak di lereng pegunungan dan kebanyakan penduduknya berprofesi sebagai petani ini. Hujan semakin deras dan angin bertiup sangat kencang sehingga merobek jas hujannya. Hujan  bercampur badai itu membuat Senad kesulitan untuk berjalan. Walau begitu, seakan sudah berdamai dengan kondisi alam dia terus saja melangkah sambil sekali-kali mengusap wajahnya yang kuyup dengan air.

Dia tidak begitu risau dengan tubuhnya yang bisa saja demam atau masuk angin karena hujan itu, yang sangat ia risaukan adalah apabila karena hujan itu al-Quran dan peta yang dibawanya ikut basah. Ia tidak bisa membayangkan seandainya di tengah pegunungan yang sunyi kemudian peta yang menunjukan arah kemana dia harus melangkah ikut basah karena air hujan. Tentu hal itu akan menyulitkan dia untuk melakukan perjalanan yang dia katakan sebagai perjalanan menuju NUR ILAHI.

Ketika curahan hujan makin menjadi-jadi, terpikir oleh Senad untuk berhenti beberapa saat. Di tengah-tengah curahan hujan yang makin deras ia pun menghentikan langkahnya. Ia kemudian mengkangkat tangannya ke langit dan berdoa kepada Allah seperti seseorang yang sedang berbisik. “Allah biarkan aku kehujanan, namun jangan biarkan al-Qur’an di ranselku dan peta-peta perjalanan menuju Nur kehujanan juga!” pintanya dengan penuh penghayatan.

Ia seakan menikmati tatkala air hujan mencurahi mukanya. Matanya tajam menatap ke langit seperti seorang anak kecil yang sedang menikmati lukisan pelangi. Selang beberapa detik sesudah Senad berdoa hujan pun mereda, dan sepuluh menit kemudian hujan benar-benar tidak turun lagi. Senad lalu mengucapkan, “ Aku mencintaimu ya Allah”, dan melanjutkan perjalanan dengan penuh kebahagiaan karena Allah begitu mencintainya. ***

Ikuti penulis di:

Wattpad:birulaut_78

Instagram: mujahidin_nur

Harakatuna
Harakatuna.com merupakan media dakwah berbasis keislaman dan kebangsaan yang fokus pada penguatan pilar-pilar kebangsaan dan keislaman dengan ciri khas keindonesiaan. Transfer Donasi ke Rekening : BRI 033901002158309 a.n PT Harakatuna Bhakti Ummat

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru