28.3 C
Jakarta

2021 Sebagai Resolusi Anti Caci Maki

Artikel Trending

Setahun sudah kita jalani tahun penuh tantangan. Manusia bergelempangan, kelaparan menjadi tuan atas kesengsaraan, kesehatan dijadikan tumbal atas unsur sosial. Semuanya tersungkur dalam ranah penderitaan panjang. Barangkali media adalah salah satu tersangka atas memburuknya situasi saat ini. Banyaknya berita hoaks serta perdebatan tak penting melahirkan pertengkaran dan caci maki yang tak berkesudahan. Entah cara provokasi atau mengkerdilkan anak negeri, semua luluh lantah dalam egoisme pribadi.

Ibarat gelembung, percakapan di media menurut Julia T Wood hanyalah ilusi belaka. Selalu menjadi pembicaraan setiap harinya, namun setelah gelembung meletus, hanya tersisa ruang hampa. Dalam ruang hampa itu, penebar hoaks melakukan manuver untuk menebar kekacauan. Kekabutan yang dialami banyak orang, menjadi senjata ampuh dalam mengorek keuntungan pribadi.

Devide et impera, politik adu domba yang dahulu dimainkan Belanda, kini beralih peran pada anak bangsa. Semuanya saling menjatuhkan berasaskan keyakinan. Satu sama lain saling menyalahkan. Kondisi seperti ini disebut oleh John Keane sebagai era keberlimpahan informasi. Kehidupan yang serba digital, ikut menggerakan komunikasi manusia ke arah digitalisasi. Manusia menjadi makhluk yang aktif dalam komunikasi digital.

Kondisi seperti ini dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk membuat dunia buatan versi mereka. Dunia yang ditampilkan sering melenceng dari kenyataan. Misalnya seseorang yang mengunggah foto di salah satu akun media sosial, bisa jadi bukan foto sebenarnya. Bisa jadi jika foto tersebut telah melewati serangkaian editan, yang apabila sampai pada gambar yang diinginkan, langsung dilakukaan pengunggahan.

Pun tidak ada bedanya dalam pembuatan berita. Tidak jarang berita hoaks yang disebarkan telah melalui serangkaian editan. Penulis membelokkan arah pemberitaan hingga dirasa sudah pantas laku banyak di pasaran. Tidak peduli masyarakat tertipu oleh kenyataan sebenarnya, yang terpenting keuntungan bagi individu berjalan secara semestinya.

Apalagi di masa kontestasi politik dan masa Covid-19 seperti ini. Tentu isu-isu penyelewengan tentang pelanggaran protokol kesehatan, rencaana vaksinasi pemerintah, dan agama yang digoreng sedemikian rupa menjadi santapan lezat dalam perbincangan digital. Media sosial sering dijadikan saluran efektif dalam menyalurkan pendapat. Namun yang sering terjadi, kebebasan yang dipraktekkan sering kebablasan yang berujung pada pertengkaran.

Sungguh, fenomena saling caci menunjukkan kerapuhan pada pola komunikasi publik. Pola yang selama ini terbangun didominasi oleh rasa ingin menang dan benar. Setiap individu merasa bangga jika lawan bicara menyerah dalam perdebatan yang diselenggarakan.

BACA JUGA  Menyikapi Pernyataan Macron tentang Krisis Agama Islam

Akibatnya, semua orang tidak mau merasa malu atas kekalahan kontestasi perdebatan yang ada. Semua menginginkan kemenangan. Sedangkan cara yang ditempuh bisa menjelekkan atau membuat berita yang tidak benar.

Media kerap kali dibombardir oleh isu-isu panas yang sengaja dilemparkan. Media menjadi alat canggih pendulang pertengkaran. Kemampuannya yang menyebarkan informasi secara cepat tanpa memandang waktu dan tempat, membuatnya menjadi pilihan utama. Dalam era digital ini, media menjadi senjata utama dalam memproduksi caci maki.

BACA JUGA  Konflik-Kegagalan Reformasi Pasca Dilarangnya FPI

Menghadapi kenyataan ini, kampanye literasi media perlu serius dijalankan. Bukan lagi sekedar ajakan, namun isyarat wajib yang harus dilakukan. Masyarakat yang memiliki kemampuan literasi media yang mumpuni, dapat mengetahui hakikat dari sebuah perbincangan. Pun demikian, dirinya tidak akan tertipu pada berita ataupun isu-isu yang sengaja dilemparkan untuk mendulang perdebatan sia-sia.

Manusia yang pintar adalah manusia yang banyak membaca. Kegiatan membaca meliputi segala hal, termasuk membaca situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Dirinya mampu menempatkan diri pada posisi tepat dalam menghadapi persoalan. Dan apabila membela, dia melakukannya dengan keseriusan ilmu dan kekayaan pandangan. Jadi tidak mudah terpancing karena mempunyai sikap dan pendirian terhadap suatu masalah.

Langkah yang dilakukan bisa dimulai dari mengkritisi informasi yang ada dalam media. Bisa mengkritisi sumber berita, bisa pula mengkritisi data-data yang ada dalam berita. Kemudian aktif dalam mencari informasi baru yang terkait dengan pemberitaan yang sedang dicerna. Jangan mudah mempercayai berita dari satu sumber saja. Adakan observasi lebih lanjut tentang keaslian berita.

Cara seperti ini harus dipraktekkan secaara rutin dan dilaksanakan oleh semua orang. Sehingga komunitas yang tercipta adalah komunitas yang bebas akan penyesatan. Kemudian kegiatan rutin yang dilakukan, bisa menggeser nilai dangkal pada saat membaca berita.

Langkah seperti ini tidaklah mudah dilakukan. Perlu kerja keras serta koordinasi semua pihak agar rencana bisa terlaksana secara sempurna. Maka jika 2021 menginginkan masyarakat yang bebas akan caci maki, mulailah membersihkan media dari pertengkaran. Menjadikan media sebagai ruang khusus untuk mengolah informasi bukan mengendalikan masyarakat dengan informasi.

M. Nur Faizi
M. Nur Faizi
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Bergiat sebagai reporter di LPM Metamorfosa, Belajar agama di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-ien Yogyakarta.

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru