2019 dan Tugas Milenial Jaga Indonesia dari Radikalisme dan Terorisme


Harakatuna

Tahun 2018 sudah berlalu. Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyatakan bahwa aksi terorisme sepanjang 2018 meningkat menjadi 17 aksi dibandingkan tahun lalu yang mencapai 12 aksi. Sementara, ada 396 orang pelaku teror yang berhasil diungkap pada tahun 2018. Sebanyak 141 orang ditangani melalui penegakan hukum (sidang), 204 orang telah disidik dan ada 25 orang yang meninggal karena penegakan hukum, dan satu orang meninggal karena sakit. Kapolri Tito Karnavian, dalam keterangannya kepada awak media menyebutkan, sepanjang yahun 2002 sampai 2018, pelaku yang berhasil diringkus mencapai 1.441 orang dan 1.035 yang dihukum dan empat hukuman mati.

Kita tentu masih ingat betul beberapa kasus terorisme yang terjadi di 2018 lalu. Ya. Ada kasus amukan narapidana dan tahanan kasus terorisme di Rumah Tahanan Markas Komando Brigade Mobil (Mako Brimob) di Depok, Jawa Barat pada 8 Mei 2018, kemudian disusul bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada tanggal 13 Mei 2018.

Sementara untuk penyebaran radikalisme terorisme di udara (dunia maya), Kominfo telah memberangus 228 situs radikalisme selama periode Januari-Agustus 2018. Langkah ini sebagai bentuk upaya serius pemerintah dalam membasmi benih dan laku radikalisme terorisme.

Tentu pada tahun 2019 ini, kasus radikalisme dan terorisme diprediksi akan semakin meningkat. Hal ini tak terlepas dari kondisi tahun ini akan ada Pemilu. Sebagaimana yang telah diungkap dalam beberapa artikel, bahwa salah satu faktor munculnya radikalisme adalah karena ada sekelompok yang getol untuk menerapkan sistem khilafah. Secara bersamaan, mereka mengingkari sistem selain khilafah. Sehingga, Pemilu bagi kelompok radikalis adalah sesuatu yang ‘haram’. Dari sinilah kemudian mereka selalu ‘memusuhi’ pemerintahan yang sah.

Baca Juga:  Membendung Radikalisme di Kalangan Mahasiswa

Abdul Hayyi ‘Izb Abdul ‘Al, Rektor Universitas AL Azhar mengkhawatirkan terjadinya fenomena yang belakangan ini terjadi, yakni masuknya banyak orang yang memiliki afiliasi dan pemikiran yang memusuhi negara dan umat manusia ke dalam lapangan dakwah. Dan inilah yang disebut sebagai gerakan terstruktur nan rapih kelompok radikalis-teroris. Dalam bahasa Abdul Hayyi ‘Izb, mereka memanfaatkan organisasi dakwah untuk memasukkan agama secara paksa ke dalam aliran-aliran politik yang beraneka ragam, dan sembunyi di balik jargon-jargon keagamaan untuk mempenagruhi manusia dan menarik simpati mereka.

Tugas Generasi Milenial

Radikalisme dan terorisme yang semakin menggurita perlu mendapatkan perhatian khusus dari generasi milenial. Terlebih generasi ini merupakan generasi mayoritas yang menghuni media sosial saat ini. Sehingga, milenial diharapkan tak lagi menjadi ladang subur penyebaran paham radikal, melainkan justru menjadi tameng/penangkal paham radikal. Inilah yang disebut sebagai tugas generasi milenial saat ini.

Temuan Tim Riset UIN Sunan Kalijaga pada 2018 lalu yang dikoordinir oleh Noorhaidi Hasan mengungkapkan bahwa ada 5 corak literatur Islam yang sering dikonsumsi oleh generasi milenial; salafi, jihadis, tahriri, tarbawi, dan Islamic populisme. Meskipun tidak mendominasi, literatur berbau jihadis masih banyak diakses oleh generasi milenial. Sebagaimana temuan Wahid Institute pada 2016 lalu, bahwa sebanyak 60 persen dari 1.626 orang muda peserta dalam Perkemahan Rohis setuju untuk jihad ke wilayah konflik, termasuk Suriah.

Dari sini terlihat betapa wawasan keagamaan generasi muda sangat minim. Hal ini salah satunya tercermin dalam pemahaman mereka terhadap makna jihad yang dipandang sebagai mengangkat atau pergi ke medan perang. Memang pemahaman demikian tidak salah, namun di dalam konteks saat ini jihad seperti ini kurang tepat.

Baca Juga:  Menangkal Paham Radikal: Tugas Berat Dewan Masjid Indonesia

Oleh sebab itu, tugas generasi milenial adalah menguatkan dan menyebarkan secara konsisten materi-materi moderat ke seluruh jagat alam. Selain itu, membuka wawasan kebangsaan secara luas merupakan tugas generasi milenial selanjutnya. Mengkampanyekan Pancasila sebagai ideologi final bagi bangsa dan negara Indonesia. Sebab, Pancasila adalah jalan tengahnya.

Peran-peran generasi milenial harus dikonkret dan diistiqomahkan. Hal ini bukan karena generasi mileniah hanya melanjutkan estafet rupa Indonesia, melainkan sebagai generasi penentu masa depan Indonesia, ia-lah yang akan mengambil peranan yang signifikan dalam membentuk dan memajukan Indonesia.

Gagasan Desa Pancasila sebagai langkah untuk mencegah maraknya aksi radikalis-teroris patut melibatkan secara massif peran generasi milenial. Generasi muda yang memiliki wawasan keislaman dan keindonesia yang baik dan lurus, diterjunkan untuk membangun Desa Pancasila. Jika sudah demikian, maka tahun 2019 dan tahun-tahun selanjutnya, aksi radikalisme terorisme, pelan-pelan akan mati secara keseluruhan. Semoga!


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.