27.1 C
Jakarta

20 Orang Teroris, Kotak Infak, dan Menteri Agama

Artikel Trending

2021 teroris masih menggelegar. Teroris tetap saja seperti biasa, menjalankan aktivitasnya. Para teroris melakukan pelatihan, merakit bom, belajar menembak, dan melakukan perekrutan. Para jejaring teroris ini adalah mereka yang ditangkap hari rabu lalu di Makassar.

20 Orang Teroris dan Susur Galurnya

20 orang terduga teroris tercium keberadaannya melakukan aksinya di sebuah Villa Mutiara, Kelurahan Bulurokeng, Kecamatan Bhiringkanaya, Makassar, Sulawesi Selatan (6/1/2021). Dua orang di antara mereka tewas tertembak saat melawan aparat. Lainnya luka-luka (Liputan6/6/1/2020).

Penelusuran polisi, 20 teroris ini adalah anggota Jemaah Ansharut Daulah (JAD). Pada 2015 silam, mereka (sebgain dari 20) telah menyatakan diri masuk bergabung atau berbait kepada ISIS. Tepat di Pondok Pesantren Ar-Ridho, pimpinan Ustaz Basri (mantan teroris yang mati di Nusakambangan), para teroris ini berbaiat kepada ISIS.

Sejak perekrutan berbuah dan mendapat anggota, di antara 20 para teroris ini, MR dan SA mulai rajin mengadakan kajian di kediaman kompleksnya. Mereka membuat halaqah dan kajian-kajian keislaman berkedok Islam.

Bahkan pada tahun 2020, mereka mulai rajin melakukan aktivitas membahayakannya. Mereka mulai melakukan latihan menembak di suatu tempat seperti bukit atau gunung. Dan pada Oktober 2020 lalu, mereka secara rutin beraktivitas latihan menembak dan naik gunung (Liputan6/6/1/2020).

Tak tanggung-tanggung, pada 2016 di antara mereka (menurut susur polisi satu anggota keluarga), ada yang sudah sempat berusaha pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Tapi usaha mereka dipatahkan oleh polisi saat mereka berada di Bandara Soetta.

Tetapi yang lebih mengagetkan, dua yang tertembak mati itu (MR dan SA), sudah terlibat dalam beberapa aksi teror. Salah satunya terlibat bom bunuh diri di Gereja Katolik, Jolo, Filipina pada Januari 2019.

Dari hasil penyelidikan awal, kedua pelaku teroris atau jaringan Jemaah Ansharut Daulah (JAD) ini, memliki keterkaitan dan keterlibatan dengan beberapa kajadian bom. Bahkan pinciuman polisi mengendus, mereka memang sejak lama, tempat-tempat seperti rumahnya telah dijadikan sel-sel kecil untuk kegiatan hal-hal kerja yang berkaitan terorisme.

Dari situ kita bertanya, bila sejak awal 2021 ini, beberapa terorisme telah terendus keberadaan dan aksinya, bagaimana (hidup) kedepan nanti? Menjalani hari-hari terang ini? Kita tak bisa berpangku tangan sedini mungkin. Teroris telah saling intip di pusaran alam sana.

Dari situasi itu semua, kita bisa meminta keseriusan pemerintah mendapuk dan meringkus para teroris ini. Bukan hanya pada oknum, pelaku, dan sejenis kicik-kiciknya. Tetapi mereka yang telah memberikan dan menyumbang dana dan aktof-aktor di baliknya.

Tak bisa dibiarkan. Jelas kita tahu, tak mungkin teroris berdiri sendiri tanpa bantuan, pengadaan, dan penyandang dana dari manapun. Mereka tak mungkin berdiri dan gigih, tanpa adanya amunisi di baliknya.  Dan itu harus dibongkar sampai ke akar-akarnya.

Seperti taktik pengadakan kotak infak yang diakolasikan di pelbagai tempat-tempat strategis macam Indomart, Alfamart, Masjid, dan lainya. Hanya dijadikan bahan akumulasi dana untuk membangun amunisi, pelengkap kebutuhan, dan jejaring politik-aktivitas di barisan teroris.

BACA JUGA  Teroris MIT dan Polusi Akhlak

Bagaimana Marespons Teroris Ini?

Merespons persoalan ini, jelas kita harus menuntut pemerintah (Menteri Agama) untuk memperioritraskan penanggulangan terorisme, radikalisme dan hal-hal lelaku intoleransi. Mereka, mungkin juga kita, harus mendekteksi se-dini mungkin berkecambahnya individu, oknum, dan kelompok-kelompok teroris. Mereka (Pemerintah) harus membongkar kedok dan ideologi dan praksisnya para kombatan teroris di Indonesia.

Tetapi tidak hanya pemerintah, kita barangkali semua, harus bersatu padu melawan terorisme. Terorisme adalah musuh semua dan oleh sebab itu, mereka membahayakan kita semua. Dan jika demikian, kita semua harus melawan. Melawan terorisme adalah pekerjaan kita semua sehari-hari, selamanya.

BACA JUGA  FPI, TNI, dan (Kelabilan) Politik Ketegasan

Kita dan pemerintah harus membangun daya cegah dan daya tangkal terhadap kelompok teroris sejak dini bahkan sedini mungkin. Disitu juga membutuhkan daya gerak kegiatan dialogis, di mana organisasi dan lembaga pemerintah mengintensifkan kegiatan untuk memblokade kegiatan dari kantong-kantong kelompok teroris. Atau, dari mereka yang berpotensi menyebarkan paham dan sikap intoleran, radikalisme, dan terorsisme.

Di sini, mungkin betul apa yang di gariskan Tito Karnavian di dalam desertasi Explaining Islamist Insurgencies: The Case of al-Jamaah al-Islamiyyah and Radicalisation of the Poso Confilict, 2000-2007 (London: Imperial College, 2015). Tito Karnavian menawarkan program kontraradikalisasi dengan beberapa program unggulan strategis dalam menangkal radikalisme-terorisme.

Pertama, menurut Tito Karnavian, kita harus melemahkan naratif ideologis radikal sehingga narasi-narasi yang disebarkan mereka tidak menggaung dan seksi di tengah masyarakat awam. Kedua, kita harus sama-sama bergelirya melemahkan para jaringan teroris dan strategi rekrutannya. Di sini kita harus bisa memetakan mereka dan jejaring mereka. Lewat jalan apapun asal sesuai atau menaati konstitusi.

Ketiga, kita harus bisa melumpuhkan, memetakan wilayah jejaring dan jaringan dan titik di mana mereka berada. Bila itu telah dijalankan, yang dibutuhkan adalah melakukan kampanye dengan melibatkan siapa saja, baik ulama, sekolah dan bahkan bagi mereka yang pernah terlibat dalam terorisme.

Keempat, kita harus bisa melumpuhkan metode dan strategi yang digunakan oleh para teroris. Lewat jalan riset, mitigasi, dan kerjasama antar lembaga pemerintahan dan masyarakat sehingga pencegahan bisa berjalan mulus dan menghasilkan sesuatu yang berguna dan fantasis.

Di samping itu juga, menurut Tito Karnavian, kita harus bisa memberikan kontra narasi, untuk membendung penyebaran idelogi radikal yang mereka jejalkan di tengah-tengah masyarakat.

Tetapi, menurut saya pribadi, tetap saja yang paling penting adalah, pemerintah harus membuka dan berani meringkus pembesar para teroris, baik penyandang, pemberi, dan dan sebagainya. Atau, mereka yang menjadi ideolog dan memberi tempat padanya.

Jika hal itu bisa dilakukan, barangkali, 2021 ke depan, kita bisa meraskan suatu kehidupan yang aman–jika tidak bisa tenteram dan sejahtera akibat krisis ekonomi—setidaknya dari ulah jahat teroris. Semoga.

Agus Wedi
Agus Wedi
Peminat Kajian Sosial dan Keislaman

Mengenal Harakatuna

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru