⁠⁠⁠⁠⁠Menyehatkan Literasi Media


⁠⁠⁠⁠⁠Menyehatkan Literasi Media

Oleh: Fattah Alfarhy

Setiap kali membuka media sosial, selalu saja ada yang seru. Keseruan itu tandanya kreatifitas. Tanpa mengenal batas usia dan batas kesempatan semua bertujuan mencari kebahagiaan. Area sosial media bagiku telah menjadi kehidupan ketiga bagi pemiliknya. Mereka berhak mencurahkan segalanya tanpa melampaui batas-batas kewajaran dengan dalih silaturahmi lebih mudah di era globalisasi.

Perkembangan teknologi yang sudah sejauh ini menjadi jembatan utama dalam mewadahi sebagian kegiatan masyarakat pada umumnya. Mulai dari pekerjaan, hiburan, data penting dan segala ruang kehidupan hampir tidak bisa lepas dari sosial media. Tidak pandang apakah itu anak-anak, remaja, ibu-ibu sosialita, kakek nenek tampak menikmati penggunaan gadget dengan beragam kebutuhannya. Ada yang cuma untuk berkirim foto, narsis di tempat-tempat rekreasi sampai liputan kegiatan yang berbau religi. Semua dalam satu genggaman smartphone yang cukup membantu.

Ketika semua orang telah beralih kepada gadget, lantas di mana sekarang keberadaan TV, Radio sampai media cetak. Jika dulu sebelum berangkat ke kantor kebiasaan baca koran dan minum kopi tidak boleh ketinggalan. Atau diisi dengan menonton saluran berita sejenak sambil merenungkan nasib jago politiknya. Sekarang situasinya agak bergeser, mungkin disebabkan dengan kehadiran aplikasi-aplikasi berita yang bisa didapat secara bebas di playstore. Kalau di rumah biasanya cuma satu dua koran berlangganan, di smartphone bisa lebih dari 3 sampai 4 saluran berita berbeda. Semua tampak praktis dan lebih elegan.

Di samping baca berita yang sudah menjadi kebiasaan baik, tentu tidak melupakan hiburan. Akun sosial media berjubel memenuhi memori di HP masing-masing. Semenit buka Facebook, di bukanya lagi Instagram, Twitter sampai Whatsapp yang paling aktif dibuka. Dengan mengikuti perkembangan yang berjalan tidak terlewatkan emak-emak sampai anak-anak memiliki akun-akun pribadi layaknya nasabah bank tempo dulu. Sosial media semakin terdepan dan bisa menjadi tabungan foto, dokumen hingga tulisan unik dalam status yang panjang.

Baca Juga:  Ayat-Ayat Puasa Dalam Al-Quran (5)

Baca: Istigfar; Pengantar Taubat

Rata-rata pengguna sosial media ingin mendapatkan follower sebanyak-banyaknya. Ini pendapatku entah dengan pendapat Anda. Barangkali dengan memiliki follower banyak tersebut menjadikan satu kepuasan tersendiri ketika mengirim status ada banyak respon dari teman-temannya. Meski dalam tanda kutip respon itu tidak selalu positif, tetapi semua dalam rangka membangun empati dari teman-teman pengikutnya. Tidak menutup kemungkinan pengikut yang banyak itu bisa dimanfaatkan untuk berbagi informasi terupdate atau sekadar memberi tanda like status. Semua itu akhirnya menjadi satu kehidupan tersendiri yang sulit ditinggalkan tiap penggunanya.

Sosial media tidak lagi mengenal kaum remaja, muda atau generasi ang tua. Semua kalau bisa harus ikut ambil bagiannya. Ketika sudah begini, lantas kita mau ikut di sebelah mana? Pemuda tidak boleh ketinggalan informasi maupun inovasi. Di saat semua pengguna sosial media membuka akun pribadinya, semua yang terbaca oleh mata bersifat tiba-tiba. Tidak peduli itu yang berupa ujaran kebencian, kejelekan orang lain sampai berita hoax yang membodohkan. Akankah kita ini ikut mengalir di tengah kecarut-marutan dengan mudah men-share dan klik tanpa berpikir panjang. Padahal, banyak pengguna dari kalangan orang terpelajar dan berbudi.

Baca: Setelah HTI Dibubarkan: Konsistensi atau Kompromi?

Semuanya serba dinamis dan progresif. Tidak mengenal ruang waktu dan tempat di mana akun itu terbuka. Setiap orang pasti akan menemukan status dalam bentuk apapun saat membuka pertama kalinya. Dengan demikian, berapa ribu pasang mata mendapati ujaran kebencian dalam setiap detiknya. Sungguh ironis jika setiap ruang aktifitas sosial media hanya berisi hal negatif. Kapan anak-anak sekolah bisa cerdas, jika tiap hari membaca status membully, menyinggung SARA, sampai membuka aib dengan bebasnya.

Baca Juga:  Era Milenial, Santri Dilarang Buta Literasi

Ada orang berkata, “Itu bersifat relatif kok.” Bagiku, ini bukan soal relatif atau bukan namun dampak sosialnya kian mengkhawatirkan. Saya jadi teringat sebuah hadis yang nenyatakan bahwa, “Sebaik-baiknya seseorang adalah yang paling bermanfaat untuk orang lainnya.” Dengan mengacu hadis tersebut, kita bisa memberi tolok ukur sudah sejauh mana kemanfaatan diri sendiri di era sosial media ini? Paling tidak kita patut menyadari ada di bagian mana kita selama ini.

Karena tipe pengguna sosial media itu macam-macam dan tidak boleh disamaratakan. Ada yang menjadi likers, haters, cuma jadi gengsi, hiburan dan sebagainya. Masing-masing memiliki alasan untuk bersosial media. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan sisi positif dan negatif ada di tiap ruang mereka. Mari kita berpikir untuk masa depan bangsa ini. Boleh dong, kita isi dengan literasi bermanfaat dan positif untuk menyehatkan media. Sehingga, kemanfaatannya akan terus mengalir sampai di mana mereka berbagi semua kebaikan yang kita tanamkan. Mari membaca, mari menulis dan mari berdakwah via sosial media!. []


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Lucu Lucu
0
Lucu
Sedih Sedih
0
Sedih
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wow Wow
0
Wow
Bingung Bingung
0
Bingung
Marah Marah
0
Marah
Suka Suka
0
Suka
Harakatuna

Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.