Yakin, Allah Bersama Kita

Yakin, Allah Bersama Kita
Oleh : Didi Junaedi*

Dalam menjalani hidup ini, kadang kita merasa seolah berjalan sendiri sesuai kehendak kita. Di saat kesuksesan kita raih, sering kita menganggap bahwa itu merupakan hasil jerih payah kita. Sementara ketika kegagalan yang kita dapati, tak jarang kita menganggap Allah berlaku tidak adil kepada kita. Kita menyertakan Allah hanya pada saat kegagalan menghampiri kita. Itu pun kita jadikan Allah sebagai ‘objek penderita’.

Inilah salah satu sifat egois yang sering tidak kita sadari. Kita merasa bahwa alur kehidupan ini kita yang atur. Sehingga setiap langkah yang kita pijakkan ke bumi ini, setiap rencana yang kita buat, setiap impian yang kita harapkan, serta setiap cita-cita yang kita dambakan, seolah menjadi kehendak mutlak kita, tanpa campur tangan Allah. Padahal kalau kita sadari, tanpa peran dan ijin Allah, apa pun yang kita rencanakan tidak akan pernah terwujud.

Karena itu, apa pun rencana yang hendak kita capai, cita-cita yang kita harapkan, hendaknya kita tempuh melalui dua cara: Pertama, ikhtiar. Kedua, doa. Rencana yang matang, tanpa diringi doa hanya akan berakhir sia-sia. Kalaupun rencana tersebut menuai sukses, maka satu hal yang pasti hilang, yaitu keberkahan.

Ikhtiar menunjukkan usaha kita sebagai manusia untuk mengoptimalkan potensi yang kita miliki demi meraih kesuksesan. Sedangkan doa merupakan bentuk kepasrahan serta kerendah dirian kita di hadapan Allah, Sang Maha Pembuat keputusan, sekaligus pengakuan kita akan kebersamaan Allah dalam setiap kondisi.

Seseorang yang menjalani hidup dengan penuh keangkuhan berupa pengingkaran akan kebersamaan Allah dalam segala kondisi, akan menapaki kehidupan tanpa mengindahkan aturan serta nilai yang diajarkan agama. Segala yang dilakukannya demi memuaskan hasrat nafsu duniawinya. Dia tidak peduli halal-haram, tidak pernah memikirkan apakah yang dilakukannya merugikan atau bahkan menyakiti orang lain. Satu hal yang dia kejar adalah agar setiap keinginannya tercapai, agar setiap cita-citanya terwujud. Orang semacam ini, ketika kesuksesan telah diraihnya, maka kesombongan yang akan tampak darinya. Adapun jika kegagalan menimpa dirinya, dia akan mencari objek ‘kambing hitam’. Tidak jarang, Allah menjadi sasaran kekecewaannya. Dia akan berujar bahwa Allah tidak adil, karena tidak memberikan apa yang diharapkannya. Terlihat jelas, betapa keangkuhan dan kesombongan telah membutakan mata hatinya.

Di sisi lain, seseorang yang meyakini bahwa dalam menjalani hidup ini Allah selalu menyertainya dalam segala kondisi, akan menapaki kehidupan dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian. Ketika sebuah rencana hendak dijalankan, maka pertanyaan yang selalu menggelayut di benaknya adalah, apakah Allah ridlo dengan rencananya ataukah tidak. Maka diapun akan selalu meminta petunjuk Allah ketika hendak merencanakan sesuatu. Dia yakin betul, jika rencana yang dijalankan diridloi Allah, maka semuanya akan berjalan lancar. Dia tetap berikhtiar dengan segenap kemampuannya untuk mencapai cita-cita yang diharapkan. Namun demikian, setelah ikhtiar disempurnakan, dia pasrahkan semuanya kepada Allah. Di samping itu, dia juga yakin, jika Allah tidak ridlo, maka semua rencana bisa saja gagal. Atau meski berhasil, tapi tidak ada keberkahan tanpa ridlo-Nya.

*Penulis adalah Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon

SHARE
Previous articlePendidikan Anak (di) Usia Dini
Next articleYakinlah, Pancasila Tidak Bertentangan dengan Islam
Harakatuna
Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here