Menyelami Pemikiran Politik (alm) Gus Dur

Camera

Oleh; Faizi

(Pengamat Sosial-Keagamaan, tinggal di Jakarta)

Almarhum K.H Abdurrahman Wahid alias Gus Dur merupakan salah satu tokoh politik nasional yang paling fenomenal dan kontroversial yang pernah dimiliki bangsa ini. Dalam konteks Indonesia, Gus Dur layak disebut sebagai tokoh politik nasional tidak hanya karena pengaruh pemikiran politiknya yang luar biasa melainkan juga langkah politiknya yang cenderung nyeleneh, melawan arus dan kontroversi. Bukan hanya lawan politiknya yang dibuat bingung, kawan politiknya pun kerap sulit untuk sekadar menangkap maksud dan tujuan dari sikap politiknya. Semua itu berangkat dari keterbatasan pengetahuan kita dalam memahami sikap dan tindakan politiknya.

Buku berjudul lengkap ”Pemikiran dan Sikap Politik Gus Dur” yang ditulis oleh Ali Masykur Musa berusaha secara serius memaparkan akar pemikiran politik Gus Dur secara utuh. Selain itu, buku ini ingin membuktikan bahwa pemikiran dan tindakan politik Gus Dur selama hidupnya bukanlah sesuatu yang sangat kontroversial. Doktor lulusan pascasarjana Universitas Negeri Jakarta ini menegaskan bahwa pemikiran dan tindakannya justru implementasi dari nilai-nilai Islam yang membumi. Logika awam kitalah yang seringkali tertinggal di belakang sehingga Gus Dur terkesan tidak umum, nyeleneh dan melawan arus. Keterbatasan kitalah yang membuat pikiran dan kiprahnya tak mampu kita pahami (hal vii).

Tetapi, mengapa Gus Dur? Mengapa pemikiran politiknya penting untuk kita pahami justru setelah kepergiannya? Apa relevansi pemikiran-pemikiran Gus Dur bagi pemahaman kita terhadap doktrin agama, realitas keberagamaan dan dinamika perpolitikan Indonesia hari ini?. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian mendasari penulis menyusun buku ini. Bagi penulis, Gus Dur ibarat buku yang tidak pernah habis dibaca, sehingga pemikiran-pemikirannya, selama kurun waktu tertentu bahkan hingga wafatnya telah memberikan warna ”khas” terhadap dinamika politik serta bangunan kebangsaan dan kenegaraan Indonesia.

Akar pemikiran politik Gus Dur

Sebagian besar uraian menyangkut pemikiran politik Gus Dur dalam buku ini diambil dari tesis Ali Masykur Musa ketika menyelesaikan program pascasarjana di Program S2 Ilmu Politik Universitas Indonesia. Tesis tersebut diberi judul  Pemikiran Politik Nadhlatul Ulama Periode 1987-1994 (Studi Tentang Paham Kebangsaan Indonesia). Dalam pandangan penulis, akar pemikiran politik Gus Dur sesungguhnya didasarkan pada komitmen kemanusiaan (humanisme-insaniyah) dalam ajaran Islam. Dalam pandangan Gus Dur, komitmen kamanusian itu dapat digunakan sebagai dasar untuk menyelesaikan tuntutan persoalan utama kiprah politik umat Islam di dalam masyarakat modern dan pluralistik Indonesia. Komitmen kemanusiaan itu pada intinya adalah menghargai menghargai sikap toleransi dan memiliki kepedulian yang kuat terhadap keharmonisan sosial (social harmony). Menurut Gus Dur, kedua elemen asasi di atas dapat menjadi dasar ideal modus keberadaan politik komunitas Islam di Indonesia (hal 87).

Dengan demikian, modus pemikiran politik yang secara konsisten di perjuangkan Gus Dur tidak lain adalah komitmen tehadap tatanan politik nasional yang tidak sektarian dan sekaligus mengangkat universalitas kemanusiaan. Platform kehidupan umat Islam seharusnya diletakkan pada tiga prinsip persaudaraan, yaitu Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathoniyah, dan Ukhuwah Basyariah sebagaimana prinsip NU. Karena itu, di dalam politik Gus Dur selalu menghindari formalitas Islam dan negara. Segala bentuk ekslusivitas, sektarianisme dan previlese-previlese politik harus dijauhi, termasuk upaya pemberlakuan ajaran agama melalui negara dan hukum formal. Ide proporsionalitas dalam perwakilan di lembaga-lembaga  negara, menurut Gus Dur juga harus dihindari karena tuntutan-tuntutan ini jelas berlawanan dengan azas kesetaraan (egalitarianisme) bagi warga negara.

Sebagai anak ideologis Gus Dur, karena kurang lebih 20 tahun bersama Gus Dur baik secara fisik maupun non-fisik. Bagi penulis, Gus Dur adalah seorang yang memberi ruang sangat luas dalam pikirannya untuk terbangunnya sebuah dialog. Agama baginya bukanlah doktrin yang kaku dan mati, melainkan merupakan hidayah dari Allah SWT yang berperan penting dalam pembentukan pola pikir, sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, nilai keberagamaan seseorang tidak hanya dinilai dari atribut-atribut keagamaan yang dikenakannya, tetapi pada perilaku keseharianya. Dan Gus Dur percaya, implementasi agama dalam perilaku itulah yang justru menempatkan Islam sebagai agama ”rahmatan lil’alamin” bukan dengan cara-cara memformalkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai cucu pendiri NU dan putra seorang pejuang kemerdekaan, Gus Dur menjelma sebagai tokoh paling progresif di NU sejak kehadirannya dalam organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Ia tidak hanya mereformasi NU secara internal, tapi juga menjadikan NU sebagai wadah paling dinamis terhadap terjadinya dialog dan pemikiran keagamaan dan kebangsaan. Pergaulannya yang luas dan wawasannya yang menjangkau hampir seluruh disiplin ilmu telah membawa NU menjadi ”kawah candradimuka” bagi munculnya sejumlah politisi dan intelektual muda NU progresif yang tidak hanya segaris dengannya, tapi bahkan juga berlawanan dengannya.

Maka, tidak heran jika pemikiran politik NU tentang paham kebangsaan selalu integratif dan inklusif dengan bangsa. Menjunjung tinggi persatuan, toleransi umat beragama, etika kemanusiaan dan pengabsahan ideologi Pancasila sebagai ideologi Negara Indonesia secara syari (Hukum Islam), merupakan sebagian dari inti pemikiran paham kebangsaan Indonesia dalam perspektif NU yang mendapat penguatan di masa Gus Dur (hal xi).

Buku ini terdiri atas empat bagian, yakni kiprah Gus Dur di dalam kepengurusan NU dan pendirian PKB hingga menjadi presiden, sikap Gus Dur dalam percaturan politik nasional terutama terkait pergumulan NU sebagai organisasi sosial keagamaan dengan kekuasaan. Kemudian akar-akar pemikiran Gus Dur yang berpusat pada tiga prinsip persaudaraan, yakni ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah, serta bagian terakhir potret Gus Dur sebagai figur yang dikenang oleh banyak orang dari berbagai kalangan.

Dalam perspektif buku ini, Gus Dur ditampilkan sebagai sosok yang tidak bisa diam dan berpangku tangan menyaksikan apa yang terjadi dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Ia tidak hanya berkata-kata, tapi juga bertindak. Mengambil sikap tegas terhadap apa yang ia pikir patut dibela dan dibantu. Sejumlah peristiwa nasional yang terjadi semasa hidupnya, baik dalam aspek kehidupan beragama, bermasyarakat maupun berpolitik, yang secara langsung melibatkan dirinya adalah contoh totalitas Gus Dur dalam pikiran dan perbuatan. Bahkan dalam kadar tertentu ia selalu berdiri di depan dan siap mengambil risiko apapun untuk membela orang-orang yang secara politik lemah dan tertindas.

Sikap, pemikiran dan perilakunya itulah yang menempatkan Gus Dur, yang dalam perspektif penulis tampil sebagai figur determinan yang memberi pengaruh luar biasa terhadap gerakan sosial politik pada masa-masa berikutnya. Tidak hanya di kalangan nahdliyin, tapi juga masyarakat Indonesia pada umumnya (hal 79).

Buku ini ditulis dengan bahasa formal sehingga mungkin akan membosankan bagi pembaca pemula. Namun, sebagai sebuah buku yang mencoba menguak sejumlah sisi ”lebih” Gus Dur, tentu saja kehadiran buku ini bisa memberikan tambahan referensi bagi pembaca untuk mengenal Gus Dur secara lebih komprehensif, terutama karena secara pribadi, fisik maupu batin, penulis pernah bergaul sangat dekat dengan Gus Dur, baik sewaktu menjadi Ketua Umum PB NU maupun ketika menjadi Ketua Umum Dewan Syuro PKB. Singkatnya, buku ini memberi informasi yang cukup bagi siapa saja yang ingin lebih mengenal Gus Dur, memahami pemikirannya, mengetahui alasan di balik tindakan dan sikap politiknya yang kerap dianggap kontroversial. Selamat membaca!

 

Judul Buku      : Pemikiran dan Sikap Politik Gus Dur

Penulis             :  Dr. Ali Masykur Musa, M.Si., M.Hum

Penerbit           : Erlangga, Jakarta

Cetakan           : Pertama, Februari 2010

Tebal               : xii+162 halaman

ISBN               : 978-979-075-265-8

 

(Tulisan ini dimuat di Kompas, 22 Februari 2010)

SHARE
Previous articleMerawat Ideologi Nusantara
Next articleKritik Cak Lontong
Harakatuna
Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here