Ketika Terputus dari Ulama dan Fuqaha

Ketika Terputus dari Ulama dan Fuqaha

Oleh : Ustadz M. Khaliq Shalha*

Dalam sebuah hadits dikatakan, “Akan datang suatu masa pada umatku, mereka meninggalkan ulama dan fuqaha tunggang-langgang. Maka, Allah memberi cobaan pada mereka dengan tiga cobaan. Pertama, Allah akan mengangkat berkah pada kasab (usaha ekonomi) mereka. Kedua, Allah menguasakan di tengah-tengah mereka pemimpin yang zalim. Ketiga, mereka keluar dari dunia (wafat) dalam keadaan tidak membawa iman.”

Dari saat ke saat, setelah Rasulullah wafat, mesti ada penerus dakwah beliau untuk menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran di muka bumi ini. Mereka adalah ulama dan fuqaha. Mereka orang-orang takwa yang ahli agama. Para ulama menjaga eksistensi ajaran agama berupa akidah, akhlak dan hukum. Fuqaha adalah ulama yang konsentrasinya di bidang hukum Islam.

Siapakah ulama dan fuqaha yang seharusnya menjadi junjungan kita? Mereka adalah orang-orang yang ikhlas menjalankan ajaran agama dan membimbing umat untuk selalu taat beragama, mereka orang-orang yang layak jadi tuntunan.

Ketika orang-orang sudah mulai meninggalkan junjungan dan panutannya, pertanda krisis spiritual mulai menimpa mereka. Selanjutnya akan terjadi kesalahan dalam memilih panutan. Orang yang mestinya sebagai tontonan dijadikan tuntunan. Orang yang kapasitas kealimannya diragukan dijadikan panutan. Orang yang baru belajar agama kemarin sore sudah dibanggakan. Sementara itu, orang yang pemahaman dan penghayatan agamanya mendalam malah dituduh sesat.

Kondisi umat demikian sangat merugikan masa depan mereka. Keberkahan hidup dan penghidupan akan dicabut, ditambah lagi oleh kedurjanaan pemimpin zalim di tengah-tengah mereka. Na’udzu billah bila ketika mati kelak tanpa iman.

Kita banyak berharap, semoga Allah selalu memperlihatkan kita pada kebenaran sebagai kebenaran dan kita diberi kemampuan mengikutinya, dan semoga pula Dia memperlihatkan kebatilan sebagai kebatilan dan kita diberi kemampuan untuk menjauhinya. Kita butuh bimbingan ulama. Wallah a’lam.

*Penulis adalah alumni IAIN Sunan Ampel Surabaya

 

SHARE
Previous articleMacam-Macam Hati (Qalb) (1)
Next articleNarasi Islam Tawassuthiyah
Harakatuna
Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here