Hijrah Mengalahkan Watak Primordialisme

1 Muharram 1439 H memang sudah berlalu. Namun merefleksikan momentum luar biasa itu akan selalu relevan, tak lekang oleh waktu. Apalagi 1 Muharram menjadi sejarah yang tidak terlupakan bagi umat Islam mengingat tahun baru hijriyyah ini merupakan penanda dimulainya perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Madinah, atau yang sering disebut sebagai hijrah.

Dalam konteks kebangsaan, Tahun Baru Hijriyyah, memiliki makna yang mendalam untuk dapat dipraktikkan oleh segenap Muslim di Indonesia. Benar! Nilai itu adalah hijrah mengalahkan watak primordialisme.

Secara sederhana, primordialisme adalah sebuah pandangan atau paham yang memegang teguh hal-hal yang dibawa sejak kecil, baik mengenai tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan pertamanya (Wikipedia.org).

Primordialisme yang berlebihan akan melahirkan pola pikir bahwa kelompok atau etnis saya (individu) adalah yang paling benar dan berkuasa. Sehingga, implikasi lebih jauh dari pandangan ini adalah munculnya etnosentrisme, memandang rendah budaya dan adat-istiadat kelompok lain. Jika yang demikian terjadi, maka kelompok lainnya akan dipandang sebelah mata dan akan menjadi pesakitan karena selalu disalahkan. Tentu kondisi semacam ini, jika dibiarkan, akan merusak keharmonisan.

Sima (2017) menegaskan bahwa primordialisme-etnosentrisme ini merupakan batu sandungan, setidaknya atas dasar beberapa hal. Pertama, masyarakat Indonesia plural. Bangunan dan komposisi Indonesia sejak awal sudah terdiri atas berbagai macam suku, agama dan lainnya. Artinya, kemajemukan Indonesia bukanlah suatu kutukan atau kehendak masyarakat Indonesia sendiri, melainkan semua itu anugerah yang indah dari Allah swt. Maka, sikap toleran dan menempatkan primordialisme secara baik dan tepat adalah kunci meraih hidup sejahtera dalam bingkai kebinekaan.

Kedua, tenung kebangsaan kita adalah sesuatu yang dinamis. Pada satu waktu, tenun tersebut isa kokoh bak tembok rakasasa yang terbuat dari lapisan baja dan bahan kuat lainnya. Akan tetapi, dilain waktu, ia bisa longgar dan mengendur. Dalam pada waktu yang terakhir, perasaan saling yakin dan patriotism adalah kunci utama untuk mengembalikan pada posisi pertama.

Namun, jika dalam pada waktu longgar dan kendur itu primordialisme dan etnosentrisme yang menguat, maka tinggal menunggu bangsa lain tepuk tangan karena peperangan yang terjadi di Indonesia bukanlah kemenangan bangsa sendiri karena perang saudara, melainkan bangsa lain.

Ketiga, menguatnya identitas asing.  Arus globalisasi yang sedemikian derasnya menyebabkan sebagian masyarakat Indonesia mengalami krisi identitas. Dalam kondisi seperti itu, identitas asing pun muncul dan menjadi model anak muda. Memang tidak selalu negative, tetapi semua itu kebanyakan menimbulkan sebuah “petaka” bagi masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah menguatnya sikap dan laku merendahkan budaya local atau lain.

Spirit Hijrah

Momentum tahun baru Hijriyyah, bagi umat Islam di berbagai belahan dunia tanpa terkecuali di Indonesia, dirayakan dengan suka-cita dan gegap gempita. Seremonial yang dibalut dengan kegiatan takbiran hingga dizikir akbar pun terlihat begitu nyata di kota-kota maupun daerah-daerah di pelosok Tanah Air.

Di tengah perayaan yang meriah itu, kiranya segenap Muslim tidak terjebak pada euforia seremonial belaka. Artinya, harus ditangkap spirit tahun baru Hijriyyah itu sendiri. Hijrah sebagai momentum penting dan menentukan yang dilakukan Nabi, menjadi spirit yang harus dijunjung tinggi dan direfleksikan dalam kekinian dan kedisinian.

Secara historis disebutkan, hijrah Nabi Muhammad berserta para sahabat dari Makkah ke Madinah menjadi tonggak baru kehidupan manusia yang lebih baik, dari kegelapan menuju terang benderang, begitu kata Alquran.

Dalam kurun waktu dua tahun Nabi Muhammad mampu menjadikan Madinah sebagai kota atau negara yang beradab. Ada pelajaran menarik dari politik yang dijalankan Nabi kala itu. Yakni menyembelih watak primordialisme penduduk Madinah dan para pendatang.

Sebagaimana disinyalir oleh Philip K. Hitti bahwa salah satu watak bangsa Arab kala itu adalah meningkatkan dan menguatnya kesukuan. Antara satu suku dengan yang lain merasa kuat. Maka, kehadiran Nabi, menjadikan masyarakat Madinah setara, terutama dalam hal dunia (muamalah).

Tidak hanya itu. Nabi Muhammad Saw kala itu melakukan kebijakan yang populis dengan mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum anshar. Kebijakan beliau diambil guna keduanya dapat saling membantu dan mengasihi satu sama lain. Kaum muhajirin yang mana meninggalkan segala kekayaan mereka di kota mekah sangat membutuhkan bantuan dari kaum anshar di madinah untuk memulai hidup baru. Dan persaudaraan yang jauh dari watak primordialisme inilah yang juga akan membentuk suatu solidaritas antara kedua kaum tersebut yang nantinya sangat penting bagi perjuangan umat Islam. Dalam konteks keindonesiaan, persaudaraan akan menciptakan kehidupan yang harmoni dalam bingkai kebhinnekaan.

Jadi, melalui spirit hijrah ini, marilah kita berusaha sekuat tenaga untuk menghargai kelompok lain, jangan ada diskriminasi antar anak bangsa. Satu lagi, sikap saling menghormati, sebagai salah satu perasyarat hidup damai, tidak akan terwujud manakala primordialisme dirawat dan dipupuk sehingga tumbuh subur. Oleh sebab itu, marilah hijrah mengalahkan watak primordialisme! Wallau a’lam. (NJ).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here