Belajar Toleransi Dari Sang Nabi

0
11

Suatu ketika Nabi saw menyaksikan seorang badui yang tidak tahu apa-apa memasuki Masjid lalu ia kencing di salah satu sudut masjid.
Para sahabat yang juga mengetahuinya marah dan ingin segera mengusirnya dari masjid. Namun tidak demikian sikap Nabi saw, beliau bersabda kepada para sahabat: “Janganlah engkau menghentikan kencingnya.”

Nabi saw membiarkan badui tadi menyelesaikan kencingnya sedangkan para sahabat masih menahan marah. Setelah usai menunaikan hajatnya, Nabi saw menghampiri badui tadi. Beliau saw menegur dengan penuh kelembutan: “Wahai badui, sesungguhnya masjid ini rumah Allah dan bangunan untuk beribadah dan berdzikir, ia tidak dibangun untuk perkara ini (menunaikan hajat).”

Melihat kelembutan Nabi saw, si badui tadi lantas berdoa: “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati orang-orang yang bersama kami (para sahabat).”
Nabi saw kemudian bersabda: “Jangan kamu mempersempit rahmat Allah yang luas itu.”

Nabi saw lalu memerintahkan para sahabat mengambil seember air untuk mengguyur air kencing tersebut. Beliau saw bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk membuat kemudahan, dan tidak diutus untuk membuat kesulitan.” (HR. al-Bukhari & Muslim).

Kisah di atas mengandung banyak sekali pelajaran yang seharusnya diteladani oleh setiap insan yang mengakui sebagai umat Nabi Muhammad saw. Di antara ibrah yang dapat diambil adalah sebagai berikut:

  1. Ketidaktahuan yang murni tanpa dibuat-buat akan melahirkan keringanan. Sebagaimana istilah para fukaha yang menyebut mereka sebagai jâhil maʻdzûr (kebodohan yang bisa ditolerir). Namun keringanan itu selayaknya diikuti dengan pengarahan dan pengajaran mana yang patut dan mana yang tidak. Memang dalam kasus di atas si badui tidak tahu menahu fungsi masjid sebagai tempat yang suci.
  2. Sikap gegabah bukanlah sifat yang disukai Nabi saw. Sebab terburu-buru itu datang dari setan. Gegabah pasti akan menyebabkan banyak madarat.
  3. Marah bukanlah suatu solusi yang tepat untuk menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan norma, etika, dan syariat. Tentu suasana akan lebih tenang jika dihadapi dengan kepala dingin.
  4. Mengganggu orang yang sedang buang air bukanlah sifat terpuji. Sebab buang air merupakan kebutuhan tiap manusia. Meskipun tindakan buang air tersebut benar-benar suatu kesalahan. Andai saja para sahabat mengusir si badui tanpa peduli air kencing masih mengalir, tentu saja air kencing membasahi seluruh lantai masjid karena kegaduhan saat mengusirnya. Menunggu hingga selesai buang air merupakan tindakan bijaksana yang dicontohkan oleh sang Nabi saw.
  5. Arahan dan pengajaran perlu dilakukan dengan cara sopan dan lemah lembut agar dapat diterima dan tertancap di dalam hati.
  6. Balas dendam bukanlah sikap yang tepat bagi siapapun yang merasa terzalimi. Nabi saw menengahi keesktriman dua sikap antara para sahabat dan si badui. Nabi saw tidak ingin para sahabat kembali terpancing emosi mereka akibat doa ‘diskriminasi’ si badui yang sebelumnya merasa menjadi korban intolerir para sahabat. Dengan konsep moderasi (tawassuth) dan toleransi (tasâmuh) sang Rasul saw menyelesaikan gesekan dan masalah yang terjadi.
  7. Ajaran Islam yang dibawa Nabi saw merupakan ajaran yang mudah dan memberi kemudahan bagi siapapun akan tetapi tanpa ada rasa menyepelekan ajaran itu sendiri.

Demikian pelajaran yang bisa kita petik dari kisah teladan sang Nabi saw bersama para sahabat. Tentu kita sebagai umatnya dewasa ini sangat dahaga akan teladan-teladan mulia dalam menghadapi segala problematika kehidupan. Semoga kita bisa meneladani beliau saw semaksimal mungkin. Amin [Ali Fitriana]

 

 

SHARE
Previous articlePerbanyak Istighfar
Next articleTiga Sisi Pandang terhadap Islam
Harakatuna
Harakatuna merupakan media dakwah yang mengedepankan nilai-nilai toleran, cerdas, profesional, kritis, faktual, serta akuntabel dengan prinsip utama semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang berdasar pemahaman Islam: rahmat bagi semua makhluk di dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here