Abu Dzar, Pemimpin Kaum Oposan dan Pejuang Keadilan

0
10

Abu Dzar al-Ghifari dikenal sebagai pejuang keadilan dan tokoh gerakan hidup sederhana. Sosok yang berasal dari suku Ghifar ini menyatakan keislamannya dihadapan Nabi Muhammad Saw. setelah ia mendengarkan lantunan ayat-ayat al-Qur’an yang dibacakan oleh Rasulullah Saw.

Ketika Abu Dzar mengatakan: “Asyhadu allâ ilâha illallâh, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasûluh.” Nabi tersenyum lebar, sementara wajahnya diselimuti rasa takjub dan heran. Sebab, ghifar adalah sebuah kabilah yang tiada duanya alam urusan membegal. Mereka dijuluki sebagai raja kegelapan pada malam hari.

Setelah menyakan memeluk Islam, Abu Dzar memiliki loyalitas luar biasa kepada Islam. Dedikasinya untuk agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. tidak bisa diragukan lagi. Perangainya yang luar biasa, karakternya yang kuat, dan memiliki cita-cita mulia menjadikan Abu Dzar layak mendapatkan bintang penghargaan. Bahkan Nabi Muhammad Saw. mengatakan bahwa: “Takkan pernah lagi dijumpai di seluruh dunia, orang yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar.” (HR. Ibnu Majah).

Setelah pergi ke Makkah guna bertemu Nabi Muhammad, Abu Dzar lantas diminta oleh Nabi Muhammad kembali ke kampung halamannya. Namun Abu Dzar tidak berkenan kembali sebelum ia berhasil meneriakkan Islam di masjid. Maka, pada suatu hari, Abu Dzar masuk ke Masjidil al-Haram, lalu berteriak sekuat tenaga, ” Asyhadu allâ ilâha illallâh, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasûluh.” Sontak. Teriakan ini mengundang perhatian banyak kalangan, terlebih teriakan ini pertama dalam Islam yang menentang kesombongan kaum Quraisy. Betapa tidak. Secara yang melakukannya adalah seorang yang sama sekali tidak memiliki keturunan, nasab, juga tempat perlindungan di kota Makkah.

****

Allah menciptakan Abu Dzar tak lain untuk menghancurkan kebatilan (ketidakadilan) di manapun ia berada. Ketika ia melihat suatu kebatilan, ia tak segan untuk menumpasnya, bahkan “memenggal” kepala kepada pelaku kebatilan.

Pada kesempatan lain, Rasulullah Saw. pernah mengajukan pertanyaan kepada Abu Dzar, “wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu bila engkau menjumpai para pembesar yang mengambil fai untuk diri mereka sendiri?” Abu Dzar menjawab, “Demi yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, akan aku tebas nereka dengan pedangku!” Lantas Rasulullah bersabda, “Maukah engkau aku beri jalan yang lebih baik dari itu? Bersabarlah sampai engkau menemuiku.” (HR. Abu Daud, Shahih wa Dha’if Sunan Abu Daud, 4759I).

Bersabarlah sampai engkau menemuiku.” Nasihat itulah yang dipegang erat Abu Dzar, bahwa ia tidak akan menghunus pedangnya untuk memenggal penguasa yang mengambil harta kekayaan umat. Meskipun demikian, tidak lantas membuat Abu dzar berdiam diri ketika melihat penyimpangan di sana-sini. Kecerdikan dan keberanian Abu Dzar pun terlihat dalam hal ini.

Abu Dzar keluar menuju pusat-pusat kekayaan. Ia memerangi mereka satu-persatu dengan sikap oposisi. Dalam beberapa, ia menjadi simbol yang dilirik masyarakat karena keberaniannya menetang penguasa yang melakukan penyimpangan sana-sini. Memerangi penguasa dzolim bukan berarti menghunus pedang. Abu Dzar mempunyai cara yang lebih elegan, yakni perkataan yang menusuk relung hati manusia. Terhadap pemimpin yang lalim, slogan yang digambar-gemborkan Abu Dzar adalah: “Beritakanlah kepada para penimbun harta yang menumpuk emas dan perak, mereka akan digosok dengan setrika api neraka. Setrika itu akan menggilas kening dan pinggang mereka pada Hari Kiamat.”

Setiap ia mendaki bukit, menuruni lembah, memasuki kota, dan berhadapan dengan seorang pembesar, kalimat itu selalu menjadi syiarnya. Secara teritorial, Abu Dzar melangsungkan misinya di pusat kekuasaan dan kekayaan, yaitu Syiria. Wilayah ini merupakan tempat berkuasanya Muawiyah bin ABi Sufyan, dimana wilayahnya sangat subur, hasilnya buminya melimpah ruah, dan kaya akan upetinya. Namun, Muawiyah menggunakan kekayaan tersebut tidak untuk menyejahterakan rakyatnya. Yang ada ia membagi-bagi harta kepada orang tertentu, yang tujuannya untuk merangkul orang-orang terpandang dan mengamankan jabatannya.

Abu Dzar, dengan keberaniannya, memberitahukan kepada pemimpin-pemimpin yang lalim itu bahwa kedudukannya setara bak gigi-gigi sisir. Ia mengajarkan, “Pemimpin dan penguasa golongan seharusnya menjadi orang yang pertama kali kelaparan saat rakyatnya lapar, sebaliknya yang paling akhir mencicipi nikmatnya kenyang setelah mereka kenyang.”

Langkah strategis selanjutnya adalah, Abu Dzar, melalui kata-kata dan keberaniannya, membentuk suatu opini publik di setiap negeri Islam; sebuah opini cerdas, kukuh, dan kuat sehingga bisa menjadi kekangan terhadap para pembesar dan kaum hartawan, serta mencengah munculnya orang-orang yang akan menyalah-gunakan kekuasaan dan menimbun harta kekayaan.

Setelah berbagai gerakan dilakukan oleh Abu Dzar, negeri Syam seolah berubah menjadi ribuan lebah yang tiba-tiba menemukan ratu yang mereka taati. Seandainya Abu Dzar memberikan suatu isyarat pemberontakan, niscaya api pemberontakan akan berkobar-kobar hebat. Namun, ia hanya ingin membentuk opini umum yang harus diperhatikan penguasa. Dengan begitu, penguasa tidak seenaknya saja dalam mengemban kekuasaan dan dalam distribusi kekayaan.

Prestasi gemilang yang ditorehkan Abu Dzar, salah satunya, adalah ketika mengintrograsi Muawiyah. Tanpa rasa gentar dan terbuka tentang kekayaan Muawiyah, juga soal rumah yang dihuninya di Makkah dahulu dan istana-istana yang berdiri megah di Syam saat itu. Tidak sebatas Muawiyah, Abu dzar juga mengintrigrasi sahabat-sahabat yang ikut duduk bersama Muawiyah, yang sebagian besar mereka adalah orang-orang kaya (konglomerat), yang menguasai tanah-tanah pertanian dan lain sebagainya.

Lalu ia berseru: “Apakah kalian adalah orang yang sewaktu al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah saw., beliau berada di tengah-tengah kalian? Lantas ia menjawab pertanyaannya sendiri: “Ya, kepada kalianlah a-Qur’an diturunkan, dan kalian pulalah yang mengalami berbagai peperangan bersama beliau!”

Selanjutnya, Abu Dzar mengajukan pertanyaan menohok, “Tidakkah kalian temukan ayat ini dalam kitabullah, … Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allâh, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dahi, lambung dan punggung mereka dibakar dengannya, (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah, 34-35).

Saat Abu Dzar meymapaikan penjelasannya, Muawiyah segera memotong uraiannya seraya berkata: “Ayat ini diturunkan kepada Ahli Kitab.” Namun, Abu Dzar berteriak: “Tidak, ayat ini turun bagi mereka dan kita!!” Selanjutnya, Abu Dzar menasihati Muawiyah dan orang-orang yang bersamanya agar mereka mengeluarkan semua sawah, ladang, istana, dan kekayaan yang mereka genggam, agar mereka tidak menyisakan apapun bagi dirinya, selain apa yang mereka butuhkan untuk kehidupan sehari-hari.

Muawiyah pun merasakan ancaman yang luar biasa. Kata-kata Abu Dzar sungguh memberikan cambukan yang keras. Namun, Muawiyah tidak lantas melenyapkan Abu Dzar, mengingat dukungan rakyat begitu kuat dan kedudukannya pun luhur.

****

Bagi Abu Dzar, Allah menganugerahkan harta kepada manusia bukan untuk dijadikan tujuan utama, tetapi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Ilahi. Namun, hanya segelintir orang yang menyadari, memahami dan mempraktikkan paradigma ini. Selain itu, manusia memiliki hak yang sama ata s kekayaan bumi yang dilimpahkan Allah Swt.

Abu Dzar mencurahkan seluruh hidupnya untuk melakukan perlawanan secara damai dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Membongkar penyelewengan kekuasaan dan harta kekayaan menjadi bagian yang tidak pernah dia lupakan. Abu Dzar menemukan betapa manisnya disakiti di jalan Allah dan ia konsisten dalam perjuangan terjal ini. (NJ).

 

Sumber:Khalid Muhammad Khalid, Rijâl Haul al-Rasûl; 60 Orang Besar di Sekitar Rasulullah Swt. Penerbit Mizania, 2014.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here